Kisah Haru Baju Lebaran Hasan dan Husein, Cucu Rasulullah SAW

FNEWS.id – Tidak lama lagi umat muslim di seluruh dunia akan menyongsong Idul Fitri, tidak terkecuali masyarakat Sulawesi Tenggara., berbagai persiapan mulai dilakukan. Toko dan penjual baju ramai dikunjungi, umumnya mencari baju baru untuk digunakan pada perayaan hari kemenangan tersebut.

Tradisi menggunakan baju baru pada setiap hari lebaran Idul Fitri, sudah menjadi suatu kewajiban, ibarat suatu simbol kesucian.

banner 336x280

Pakaian bersih yang dipakai umat Islam saat lebaran Idul Fitri merupakan tanda dari manusia yang suci atau bersih dari dosa setelah berpuasa penuh di bulan Ramadhan.

Di tengah meriahnya perayaan Lebaran, ada sebuah kisah yang sering menjadi sorotan, yaitu Kisah Baju Lebaran Hasan dan Husein, Cucu Rasulullah SAW. Kisah ini tidak hanya mengandung nilai-nilai keagamaan yang mendalam, tetapi juga mengajarkan tentang pentingnya kesederhanaan, kebaikan hati, dan kedermawanan.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah kisahnya.

Hasan dan Husein adalah dua cucu Nabi Muhammad SAW, yang menjadi figur penting dalam sejarah Islam. Mereka lahir dari putri Nabi Muhammad SAW, Fatimah Az-Zahra, dan menantu Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib. Kedua cucu ini tidak hanya dihormati karena hubungan darah mereka dengan Rasul, namun juga karena kebaikan dan keteladanan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Kendati menjadi bagian dari keluarga Rasulullah SAW, kehidupan rumah tangga Fatimah dan Ali bin Abi Thalib tidak seperti sahabat lain. Ibnu Syahr Asyub dari Al-Ridha dan dikutip oleh Hakim Al-Naisaburi dalam kitabnya yang berjudul Al-Amali menceritakan kisah keluarga mereka.

Diceritan dalam kitab tersebut, Fatimah dan Ali termasuk keluarga miskin pada saat itu, bahkan menjelang hari raya Idul Fitri, Hasan dan Husein begitu sedih karena belum memiliki baju baru dikala teman-temannya sudah memiliki itu. Akhirnya, mereka pun memberanikan diri untuk bertanya ke Ibunya.

“Wahai Ibu, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran kecuali kami. Kenapa ibu tidak menghiasi kami?” sebuah pertanyaan yang wajar, bagi seorang anak ketika melihat teman-temannya mempunyai baju baru untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri.

Mendengar pertanyaan putranya, Sayyidah Fatimah mengatakan kalau baju kalian masih di tukang jahit. Bahkan kerap kali keduanya menanyakan hal tersebut, jawaban yang sama diberikan.

Malam hari raya pun tiba, sementara pakaian baru untuk Hasan dan Husein belum juga terlihat datang. Mereka pun kembali bertanya kepada ibundanya. Sayyidah Fatimah pun menangis, karena tidak mempunyai uang untuk membeilikan baju baru buat kedua putranya tersebut. Sebagaimana diketahui, bahwa keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fathimah tidak sekaya para sahabat lainnya walaupun mereka keluarga Rasulullah SAW.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara yang mengetuk pintu rumahnya. Sayyidah Fatimah bergegas menghampiri sambil bertanya kepada sosok tersebut.

“Siapa?,” tanya Sayyidah Fatimah.

Sosok yang ditanya kemudian menjawab, “Wahai putri Rasulullah SAW. Saya adalah tukang jahit yang datang membawa hadiah pakaian untuk kedua putramu”.

Mendengar jawaban tersebut, Sayyidah Fatimah kemudian membukakan pintu dan tampaklah seorang yang membawakan bingkisan kemudian diberikan kepada Sayyidah Fatimah.

Beliau lalu membuka bingkisan tersebut dan ternyata didalamnya ada dua gamis, dua celana, dua mantel, dua sorban dan dua sepasang sepatu hitam yang semuanya terlihat indah. Mendapatkan bingkisan tersebut, Sayyidah Fatimah memanggil kedua putra kesayangannya tersebut, lalu memakaikan hadiah pakaian yang sangat indah tersebut kepada kedua putranya. Mendapati permintaan yang selama ini disampaikan kepada sang ibu, keduanya sangat bahagia, keinginannya agar sama dengan teman-temannya terpenuhi. Namun, Sayyidah Fatimah masih  heran dan penasaran siapakah tukang jahit, yang tiba-tiba datang dan memberi hadiah pakaian tersebut.

Setelah itu, Rasulullah SAW datang dan melihat bahwa kedua cucunya sudah dalam keadaan rapi mengenakan pakaian baru yang indah. Rasulullah Saw dengan perasaan bahagia kemudian menggendong kedua cucunya, dan menciuminya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Rasulullah SAW kemudian bertanya kepada Sayyidah Fathimah, “Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?”

“Iya, aku melihatnya,” jawab Sayyidah Fathimah kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW kemudian menjelaskan perihal peristiwa yang dialami putrinya.

“Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, tetapi Malaikat Ridwan sang penjaga surga.” tutur Rasulullah SAW kepada Sayyidah Fathimah.

Ternyata pakaian yang dikirim tersebut adalah pakaian dari surga yang dikirim langsung oleh Malaikat Ridwan.

Mendengar penjelasan Rasulullah SAW, sontak Sayyidah Fatimah kaget sembari terus-menerus mengucap puji syukur kepada Allah SWT. Dengan begitu, malam hari raya keluarga mereka pun kembali diselimuti dengan penuh kebahagiaan, Karena pakaian untuk putra-putranya sudah siap dipakai saat lebaran esok harinya.

Itulah Kisah Baju Lebaran Hasan dan Husein, Cucu Rasulullah SAW yang dapat dijadikan pelajaran berharga untuk kita selaku umat Muslim. Kesederhanaan keluarga Fatimah dapat menyadarkan kita bahwa Rasulullah SAW yang segala pintanya akan dikabulkan Allah SWT saja lebih memilih untuk hidup sederhana sebab Rasul sadar bahwa kenikmatan dunia hanya sementara, dan kehidupan akhirat kekal untuk selamanya.

Loading

Visited 371 times, 1 visit(s) today
banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *