Kolang-Kaling, Kowala Muna, dan Jalan Panjang Menuju Kedaulatan Ekonomi Lokal

- Jurnalis

Senin, 2 Maret 2026 - 14:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini oleh: Novrizal R Topa

 

MUNA – Kolang-kaling sering kali hadir tanpa banyak disadari nilainya. Ia dianggap pelengkap, bukan pemeran utama. Padahal, di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, komoditas yang berasal dari pohon aren (Arenga pinnata) atau masyarakat suku Muna menyebutnya pohon Kowala ini menyimpan potensi besar, bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan baru secara luas dan berkelanjutan.

Keadaan ini seakan sebuah potensi yang terabaikan, dimana berdasarkan data yang kami himpun, dengan luas areal mencapai 458 hektar dan 1.177 kepala keluarga petani yang menggantungkan hidup pada aren (Kowala), hal tersebut bisa menjadi fondasi ekonomi sebenarnya sudah tersedia. Produksi per janjang (tangkai) bisa mencapai rata-rata 15 kilogram kolang-kaling. Satu pohon menghasilkan beberapa tandan. Secara matematis, ini adalah rantai nilai yang layak diperjuangkan.

Namun selama ini, kolang-kaling lebih sering dijual sebagai bahan mentah. Nilai tambahnya rendah. Keuntungan terbesar justru bergerak di hilir, pada distributor dan pasar luar daerah, bahkan luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga Arab Saudi saat musim Ramadan.

“Jika kondisi ini terus dibiarkan, petani hanya akan menjadi pemasok bahan baku, bukan pelaku utama ekonomi bernilai tinggi”.

Di sinilah urgensi hilirisasi, sebab hilirisasi bisa membuka lapangan kerja baru ketika kolang-kaling tidak lagi dijual mentah, tetapi diolah menjadi kerupuk, manisan premium, es kulkul cokelat, tepung kolang-kaling, hingga produk kosmetik berbasis gel, maka rantai ekonominya memanjang. Dan setiap mata rantai berarti pekerjaan baru.

Bayangkan dampaknya:

Baca Juga:  Mengawali 2025: Membangun Jurnalisme Berintegritas dan Mencerahkan

Tenaga Pengolahan — Dibutuhkan pekerja untuk proses perebusan higienis, pengupasan modern, fermentasi, pengemasan, hingga kontrol kualitas.

Industri Rumah Tangga & UMKM — Ibu rumah tangga dapat terlibat dalam produksi manisan, kerupuk, atau camilan beku.

Desain dan Branding — Anak muda lokal bisa terlibat dalam desain kemasan, pemasaran digital, dan promosi media sosial.

Distribusi & Logistik — Pengemasan modern membuka peluang ekspedisi skala lokal hingga ekspor.

Teknologi Tepat Guna — Produksi alat seperti “Kupclang” (pengupas buah Kolang-kaling) menciptakan peluang usaha manufaktur sederhana.

Riset & Inovasi — Kerja sama dengan perguruan tinggi dapat melahirkan tenaga peneliti dan pengembang produk baru.

Artinya, satu komoditas bisa menciptakan ekosistem kerja lintas sektor, yakni: pertanian, industri, kreatif, hingga perdagangan.

Tidak sampai disitu, bahkan berpotensi mengurangi urbanisasi sehingga bisa menguatkan Desa.

Selama ini, keterbatasan lapangan kerja mendorong banyak generasi muda desa memilih merantau. Padahal, jika aren dikelola serius sebagai komoditas strategis daerah, desa justru bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Industri kolang-kaling yang terorganisir akan memberikan dampak positif, diantaranya:

  • Menyerap tenaga kerja lokal
  • Meningkatkan pendapatan keluarga petani
  • Menggerakkan ekonomi desa
  • Mengurangi ketergantungan pada sektor informal di kota

Lebih dari itu, pengembangan aren juga relatif ramah lingkungan. Pohon aren mampu tumbuh di lahan marginal dan membantu menjaga struktur tanah. Ini berarti pembangunan ekonomi yang tidak merusak alam. Dengan begitu, Aren dapat merubah wujud, dari komoditas musiman ke industri tahunan

Permintaan tinggi saat Ramadan memang menguntungkan. Namun tantangannya adalah bagaimana menjadikan kolang-kaling sebagai produk konsumsi sepanjang tahun.

Baca Juga:  Sultra Menuju Masyarakat Adil Makmur: Harapan di Bawah Kepemimpinan Andi Sumangerukka dan Hugua

Solusinya ada pada diversifikasi, memjadikan produk sehat rendah kalori, snack diet, bahan campuran minuman modern, bahkan bahan baku produk kecantikan alami. Dengan tren gaya hidup sehat yang terus meningkat, kolang-kaling punya peluang besar menembus pasar nasional dan global.

Jika hilirisasi dilakukan serius, maka kolang-kaling bukan lagi produk musiman. Ia menjadi industri tahunan dan jika menjadi industri, berarti ada pekerjaan tetap yang terbangun.

Mungkin untuk memulainya terasa berat, namun apabila ada keberanian menjadikan Kowala/Aren sebagai prioritas, kolang-kaling bisa mendorong wujud baru, sebagai simbol potensi ekonomi rakyat yang belum sepenuhnya digarap. Dengan 60 kelompok tani aktif di 13 kecamatan, Kabupaten Muna sebenarnya memiliki fondasi sosial yang kuat.

Olehnya itu, menurut kami, yang dibutuhkan adalah:

  1. Kebijakan daerah yang berpihak pada hilirisasi
  2. Pelatihan standar produksi dan sertifikasi
  3. Akses permodalan UMKM
  4. Strategi branding “Kowala/Aren Muna” sebagai identitas daerah

Jika langkah ini dilakukan, maka kita tidak hanya berbicara tentang kolang-kaling sebagai makanan. Kita berbicara tentang pembukaan lapangan kerja baru, penguatan ekonomi desa, dan kedaulatan pangan lokal.

Di bawah rindangnya pohon aren (Arenga pinnata) alias Kowala, tersimpan lebih dari sekadar buah kenyal, sebuah peluang kerja bagi generasi muda, harapan bagi keluarga petani, dan masa depan ekonomi Muna yang lebih mandiri.

“Pertanyaannya sederhana: maukah kita melihat kolang-kaling sebagai komoditas biasa, atau sebagai pintu pembuka lapangan pekerjaan dan kebangkitan ekonomi daerah?”

 

Follow WhatsApp Channel fnews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Layakkah Sawit Ditanam di Kabupaten Muna? Antara Harapan Investasi dan Realitas Lahan Kering
Guru Mansur dan Luka Kita Bersama, Saat Hukum Harus Menyentuh Nurani
Fairness dalam Aksi Demonstrasi Mahasiswa: Ketika Suara Keadilan Menjadi Energi Positif Perubahan
DPRD Sultra dan Urgensi Publikasi Program OPD untuk Transparansi Pembangunan
Candaan yang Menghinakan: Saat Canda Menabrak Batas Kehormatan dan Nilai Budaya
Mothballing PLTU Suralaya, Langkah Strategis Menuju Transisi Energi yang Efisien
Revolusi Energi Bersih dari Pantai Selatan
Dari Gedung Putih ke Istana Merdeka, Efisiensi vs Transisi Energi
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 Maret 2026 - 14:35 WIB

Kolang-Kaling, Kowala Muna, dan Jalan Panjang Menuju Kedaulatan Ekonomi Lokal

Kamis, 4 Desember 2025 - 19:11 WIB

Guru Mansur dan Luka Kita Bersama, Saat Hukum Harus Menyentuh Nurani

Selasa, 4 November 2025 - 17:25 WIB

Fairness dalam Aksi Demonstrasi Mahasiswa: Ketika Suara Keadilan Menjadi Energi Positif Perubahan

Jumat, 22 Agustus 2025 - 10:12 WIB

DPRD Sultra dan Urgensi Publikasi Program OPD untuk Transparansi Pembangunan

Selasa, 10 Juni 2025 - 10:49 WIB

Candaan yang Menghinakan: Saat Canda Menabrak Batas Kehormatan dan Nilai Budaya

Berita Terbaru

Buah Bibir

Nol Rupiah dari Sutami, Rp 15,2 Miliar di Stadion Muna

Jumat, 27 Feb 2026 - 07:06 WIB

Features

Babad Gedung Tua yang Kini Jadi Kantor SMSI Pusat

Kamis, 26 Feb 2026 - 05:24 WIB