FNEWS ID, YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah pada Kamis (25/3) di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta. Kegiatan yang menjadi agenda rutin pasca-Lebaran ini dihadiri jajaran pimpinan pusat dan tokoh Muhammadiyah, serta diisi dengan tausiyah Syawalan yang menyoroti dinamika perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, , dalam tausiyahnya mengapresiasi kedewasaan masyarakat Indonesia, khususnya warga Muhammadiyah, dalam menyikapi perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri 1447 H. Ia menilai dinamika tersebut justru menjadi bagian dari proses pendewasaan umat.
“Ini dinamika yang membuat kita makin matang dan dewasa. Tidak perlu berlebihan menyikapi perbedaan, apalagi Muhammadiyah sebagai organisasi yang lebih tua harus menunjukkan kedewasaan,” ujar Haedar.
Meski demikian, Haedar menyayangkan adanya sejumlah peristiwa di daerah yang dinilai menghambat pelaksanaan Salat Idulfitri Muhammadiyah pada 20 Maret lalu. Ia menuturkan, perbedaan semestinya disikapi secara bijak, termasuk oleh aparat pemerintah.
“Memang patut disayangkan jika ada aparat yang justru ikut menghalangi. Seharusnya perbedaan itu dikelola dengan kedewasaan,” tegasnya.
Haedar juga menekankan bahwa perbedaan penetapan Idulfitri tidak hanya terjadi pada Muhammadiyah, melainkan juga melibatkan sejumlah organisasi masyarakat lainnya. Ia menilai dukungan publik yang mengalir, termasuk di media sosial, menunjukkan adanya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menghargai perbedaan.
Senada dengan itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, , mendorong warga Muhammadiyah untuk aktif menyampaikan pandangan keagamaan di ruang publik secara argumentatif dan terbuka.
Menurutnya, budaya menyampaikan pendapat yang didasarkan pada dalil dan argumentasi kuat akan mendorong masyarakat menjadi lebih terbuka serta tidak mudah terpecah oleh perbedaan.
“Semakin masyarakat terbiasa menyampaikan pandangan dengan argumen yang kuat, maka perbedaan tidak akan dipandang sebagai sumber konflik,” ujar Mu’ti.
Ia juga menegaskan bahwa pilihan Muhammadiyah dalam menetapkan waktu Idulfitri merupakan hasil dari kajian mendalam yang didasarkan pada dalil dan metodologi yang kuat, bukan sekadar berbeda.
“Karena itu, warga Muhammadiyah tidak perlu ragu untuk menyampaikan paham keagamaan Muhammadiyah di ruang publik,” imbuhnya.
Acara Syawalan ini turut dihadiri sejumlah pimpinan PP Muhammadiyah, di antaranya Agung Danarto, Saad Ibrahim, Syafiq Mughni, Syamsul Anwar, Irwan Akib, Busyro Muqoddas, Agus Taufiqurrahman, serta Salmah Orbayinah. (Red/No)









