“Supaya Ada Cerita dalam Hidup Kita”: Pelajaran Ikhlas dari Seorang Pedagang di Istiqlal
JAKARTA – Pukul 00.21 WIB. Dini hari. Tubuh mulai menyerah pada lelah, tetapi langkah kaki masih ingin mencari sesuatu yang mungkin tak ditemukan di tempat lain, sebuah cerita tentang kehidupan.
Aku mencoba melangkah menuju Masjid Istiqlal. Di sekitar kawasan itu, beberapa pedagang kaki lima mulai berkemas. Dagangan dirapikan, barang-barang dimasukkan ke tempatnya, sementara malam perlahan menyisakan kesunyian.
Di antara mereka, perhatianku tertuju kepada seorang pria paruh baya berambut gondrong yang menjajakan tasbih dan gelang batu di bawah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), seberang jalan Halte Trans Jakarta Juanda. Wajahnya menyimpan guratan pengalaman. Senyumnya ramah, tutur katanya mengalir, dan tak ada sedikit pun sikap curiga ketika aku datang menghampiri.
Awalnya, aku hanya ingin duduk dan berbincang sebentar.
Namun, aku tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan sederhana itu akan meninggalkan kesan yang begitu dalam. Bukan karena ia seorang tokoh terkenal, bukan pula karena memiliki sesuatu yang istimewa untuk dipamerkan. Justru karena sikapnya yang sederhana, aku menemukan pelajaran tentang kehidupan yang selama ini mungkin sering kita lupakan.
Malam itu, seorang pedagang kecil mengajarkanku tentang sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Sesuatu bernama keikhlasan.
Empat Hari Empat Malam Berjalan Kaki
Obrolan kami mengalir tanpa terasa. Ia bercerita tentang pengalaman bekerja di kapal, perjalanan hidup yang membawanya melewati berbagai keadaan, hingga sebuah kisah yang membuatku tertegun: perjalanan berjalan kaki dari Jakarta menuju Cirebon selama empat hari empat malam.
Aku mencoba membayangkan perjalanan itu.
Empat hari empat malam menapaki jalan, melewati jarak yang panjang, menghadapi lelah, dan mungkin berhadapan dengan berbagai keadaan yang tidak selalu mudah. Aku tidak mengetahui seluruh alasan yang membuatnya menjalani perjalanan tersebut. Namun, dari caranya bercerita, aku menangkap bahwa hidup telah mengajarinya banyak hal.
Ada pengalaman yang tidak cukup dijelaskan dengan kata-kata. Ada pelajaran yang hanya bisa dipahami setelah seseorang melewati jalan panjang, jatuh, bangkit, dan kembali melangkah.
Sesekali, ia melontarkan kalimat-kalimat sederhana yang mengandung falsafah kehidupan. Tidak terdengar seperti orang yang sedang menggurui. Ia berbicara apa adanya, sebagaimana seseorang yang telah mengalami banyak hal dan ingin berbagi apa yang dipahaminya.
Aku menyimak, sesekali bertanya, lalu kembali terdiam.
Betapa seringnya kita mencari nasihat dari orang-orang yang dianggap hebat, membaca banyak buku, atau mendengarkan ceramah tentang kehidupan. Padahal, terkadang, pelajaran paling berharga datang dari seseorang yang kita temui tanpa rencana di pinggir jalan.
Seseorang yang mungkin tidak pernah menyebut dirinya bijaksana, tetapi menyimpan pengalaman yang membuat kita berpikir ulang tentang cara menjalani hidup.
Sebuah Tumbler yang Membuatku Bingung
Di tengah percakapan, tiba-tiba ia memberikan tumbler miliknya kepadaku.
Aku terperangah.
Tanganku menerima benda itu, tetapi pikiranku justru dipenuhi pertanyaan. Bukankah tumbler itu bisa ia gunakan untuk minum? Mengapa diberikan kepadaku, orang yang baru dikenalnya pada dini hari?
Mataku sempat berkeliling, seolah mencari jawaban dari keadaan di sekitar kami.
Aku mencoba memahami maksudnya, tetapi belum menemukan alasan yang masuk akal menurut pikiranku sendiri.
Bagiku, tumbler itu bukan sekadar benda. Ia adalah barang milik seseorang yang sedang berjuang mencari nafkah. Mengapa seseorang yang tidak mengenalku justru memberikannya dengan begitu mudah?
Aku belum sempat menemukan jawabannya ketika obrolan kami kembali berlanjut.
Ia mulai bercerita tentang masa kecilnya di Kendari, Sulawesi Tenggara. Tentang asrama markas tentara di Boro-boro, tempat ia dibesarkan bersama kedua orang tuanya. Ayahnya merupakan seorang prajurit yang mengabdi di tempat tersebut.
Mendengar cerita itu, ada bagian dari diriku yang terasa lebih dekat dengannya. Di tengah malam Jakarta yang asing, aku justru menemukan sepotong kisah tentang tanah Sulawesi Tenggara.
Percakapan yang semula terasa biasa perlahan berubah menjadi perjalanan menyusuri kenangan seseorang.
Aku tidak sedang membaca riwayat hidup yang tersusun rapi. Aku sedang mendengarkan manusia bercerita tentang hidupnya sendiri, tentang masa lalu, pengalaman, dan perjalanan yang membawanya sampai ke tempat ia duduk malam itu.
Gelang Onyx Hitam dan Sebuah Kalimat
Rasa penasaranku berlanjut pada barang-barang yang dijualnya. Aku bertanya dari mana ia belajar membuat tasbih dan gelang, bagaimana ia mengenal batu-batu yang digunakan, serta bagaimana perjalanan usahanya selama ini.
Di sela percakapan itu, ia kembali melakukan sesuatu yang tidak kuduga.
Ia memberikan sebuah gelang batu onyx hitam kepadaku.
Aku langsung merasa tidak enak hati. Gelang itu adalah barang dagangannya. Ada nilai yang melekat padanya, ada usaha untuk mendapatkan atau membuatnya, dan mungkin ada harapan agar gelang tersebut terjual malam itu.
Aku mencoba menolak dengan halus.
Namun, ia justru mengingatkanku bahwa gelang itu merupakan pemberian seorang hamba Allah.
Aku terdiam.
Kalimatnya sederhana, tetapi terasa begitu dalam. Ia tidak berbicara tentang harga, keuntungan, ataupun apa yang akan diperolehnya sebagai balasan.
Ia hanya memberikannya.
Aku semakin sulit memahami sikapnya. Mengapa seseorang yang baru saja bertemu denganku bisa begitu ringan memberikan sesuatu, sementara aku sendiri terus dihantui perasaan sungkan untuk menerimanya?
Aku khawatir mengambil sesuatu yang sebenarnya masih ia butuhkan. Aku tidak ingin kebaikannya justru menjadi kerugian baginya.
Tetapi ia tetap memintaku menerima pemberiannya.
Malam itu, aku mulai menyadari bahwa terkadang, menerima kebaikan dengan lapang hati juga membutuhkan keberanian. Kita terbiasa menghitung nilai sesuatu, merasa harus membalas, atau mencari cara agar tidak berutang budi.
Sementara itu, ada orang yang memilih memberi tanpa menjadikan balasan sebagai syarat.
Aku belum sepenuhnya memahami cara berpikirnya. Namun, satu hal mulai terasa jelas: ia sedang mengajarkanku sesuatu, bukan melalui ceramah, melainkan melalui tindakannya sendiri.
Tiga Kacamata dalam Sebuah Kotak
Belum selesai kebingunganku, ia mengeluarkan sebuah kotak berukuran kurang lebih 25 x 20 sentimeter.
Di dalamnya terdapat tiga buah kacamata. Satu kacamata baca dengan gagang besi, sementara dua lainnya adalah kacamata hitam.
Ia menyuruhku mencoba kacamata baca tersebut.
Setelah kupakai, ia langsung memintaku untuk memilikinya. Bahkan, ia menyuruhku mengambil pula salah satu kacamata hitam yang ada di dalam kotak.
Aku semakin bingung.
Tumbler sudah diberikan. Gelang onyx hitam menyusul. Kini, kacamata baca dan kacamata hitam juga hendak diberikan kepadaku.
Aku pun menjelaskan bahwa saat itu aku sedang tidak memiliki uang untuk membeli semua barang tersebut.
Aku juga berulang kali mengatakan bahwa ia tidak perlu melakukan semua itu. Ia seorang pedagang yang sedang mencari rezeki. Aku tidak ingin menerima barang-barang itu tanpa memberikan imbalan.
Namun, ia seolah tidak ingin menjadikan persoalan uang sebagai penghalang.
Sesekali aku kembali menyampaikan keberatanku. Dalam pikiranku, kebaikan tetap harus disertai pertimbangan agar tidak membuat orang yang memberi justru kehilangan sesuatu yang dibutuhkannya.
Tetapi setiap kali aku mencoba menolak, ia selalu kembali pada kalimat yang sama.
“Supaya ada cerita dalam hidup kita.”
Kalimat itu membuatku terdiam lebih lama.
Aku mencoba memahaminya. Apa maksudnya? Mengapa ia terus mengulang kalimat itu setiap kali memberikan sesuatu?
Barangkali ia ingin agar pertemuan kami tidak berakhir begitu saja. Barangkali ia percaya bahwa sebuah pemberian dapat meninggalkan kenangan yang lebih panjang daripada keberadaan barang itu sendiri.
Aku tidak tahu persis apa yang ada dalam pikirannya.
Namun, kalimat itu mulai menetap di benakku.
Supaya ada cerita dalam hidup kita.
Bukan sekadar supaya ada barang yang berpindah tangan. Bukan supaya namanya dikenal atau kebaikannya dipuji. Melainkan supaya suatu hari, ketika perjalanan masing-masing berlanjut, ada kenangan yang bisa diceritakan kembali.
Dan malam itu, tanpa kusadari, aku sedang menjadi bagian dari cerita yang ingin ia tinggalkan.
Pelajaran yang Tidak Ditemukan di Etalase
Ada sesuatu yang membuat pertemuan itu terasa berbeda.
Aku datang dengan tubuh lelah. Ia sedang berada di antara barang-barang dagangannya. Kami tidak saling mengenal, tidak memiliki hubungan sebelumnya, dan tidak ada kepentingan khusus yang mempertemukan kami.
Namun, di tengah percakapan yang sederhana, ia memberiku empat barang yang bisa saja tetap ia simpan atau jual kepada orang lain.
Aku tidak ingin menganggapnya sebagai manusia yang sempurna. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaan hidupnya secara keseluruhan, berapa penghasilannya, atau kesulitan apa yang sedang dihadapinya.
Yang kulihat malam itu hanyalah seseorang yang bersedia berbagi, bahkan ketika ia sendiri sedang berusaha mencari nafkah.
Dan justru itulah yang membuatku merenung.
Sering kali, kita menunda berbuat baik karena merasa belum cukup memiliki. Kita menunggu kehidupan menjadi lebih lapang, menunggu penghasilan meningkat, menunggu masalah selesai, atau menunggu keadaan benar-benar aman.
Kita berkata dalam hati, kelak jika sudah punya lebih banyak, kita akan membantu orang lain.
Namun, kapan kata kelak itu benar-benar tiba?
Kehidupan selalu menghadirkan kebutuhan baru. Setelah satu persoalan selesai, persoalan lain datang. Setelah satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya.
Tanpa disadari, kita bisa menghabiskan waktu untuk mengejar kecukupan, tetapi lupa melatih kepedulian.
Malam itu, aku diingatkan bahwa berbagi tidak selalu harus menunggu kita memiliki banyak hal. Kadang, kita bisa berbagi waktu untuk mendengarkan seseorang. Kita bisa memberi perhatian kepada orang yang kesepian. Kita bisa membantu dengan kemampuan yang ada, tanpa merendahkan orang yang menerima.
Tentu, ikhlas bukan berarti harus memberikan seluruh yang kita punya hingga mengorbankan kebutuhan sendiri. Kebaikan tetap membutuhkan kebijaksanaan.
Namun, ketika kita memiliki sesuatu yang bisa dibagikan, jangan sampai ketakutan akan kehilangan membuat hati kita tertutup.
Sebab, ada kekayaan yang tidak selalu terlihat dalam isi dompet atau banyaknya barang yang dimiliki seseorang.
Kekayaan itu bernama kelapangan hati.
Siapa Sebenarnya Pria Itu?
Semakin lama berbincang, semakin terasa bahwa pria di hadapanku bukan sekadar pedagang tasbih dan gelang batu.
Di balik penampilannya yang sederhana, tersimpan perjalanan hidup yang panjang. Ada pengalaman bekerja di kapal, kisah berjalan kaki selama empat hari empat malam dari Jakarta menuju Cirebon, serta kenangan masa kecil di lingkungan asrama markas tentara di Boro-boro, Kendari.
Ia bercerita tanpa banyak membangun kesan. Ia tidak berusaha membuat dirinya tampak hebat. Tidak pula terlihat gelisah ketika berhadapan denganku, seorang asing yang datang pada dini hari hanya untuk duduk dan berbincang di tempat ia menjajakan dagangan.
Aku tidak tahu seluruh cerita hidupnya. Ada banyak hal yang mungkin belum sempat ia sampaikan. Tetapi aku mulai memahami bahwa setiap orang membawa dunia yang tidak sepenuhnya terlihat oleh orang lain.
Kita sering melewati pedagang kaki lima tanpa pernah bertanya siapa mereka, dari mana mereka berasal, atau perjalanan apa yang telah mereka lalui sebelum akhirnya berdiri di tempat itu.
Kita melihat dagangannya, tetapi tidak selalu melihat manusianya.
Kita melihat pekerjaannya, tetapi tidak mengetahui pengalaman yang membentuk cara berpikirnya.
Padahal, di balik wajah-wajah yang kita jumpai setiap hari, ada cerita tentang perjuangan, kehilangan, harapan, dan hal-hal sederhana yang membuat seseorang tetap bertahan.
Malam itu, aku merasa beruntung karena tidak terburu-buru meninggalkan percakapan tersebut.
Sebab, jika aku hanya melintas, mungkin aku hanya akan melihat seorang pedagang yang menjual tasbih dan gelang batu.
Aku tidak akan mengetahui kisah perjalanannya. Aku tidak akan mendengar falsafah hidup yang diucapkannya. Dan mungkin, aku tidak akan pernah memahami mengapa sebuah tumbler, gelang onyx, dan kacamata bisa menjadi bagian dari pelajaran yang begitu membekas.
Namanya baru kuketahui setelah percakapan kami berjalan cukup jauh.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai Pak Ogah.
Sebuah nama yang mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, tetapi malam itu menjadi nama yang akan kuingat bersama sebuah pelajaran tentang keikhlasan.
Jakarta Memberi Banyak Cerita
Pukul 00.21 WIB menjadi awal dari sebuah pertemuan yang tidak pernah kurencanakan.
Aku datang dengan kelelahan, berharap menemukan sedikit ruang untuk beristirahat. Namun, aku justru menemukan seseorang yang membuatku merenungkan kembali cara memandang kehidupan.
Pak Ogah tidak memberiku nasihat panjang tentang bagaimana menjadi manusia yang baik. Ia tidak menyodorkan teori tentang keikhlasan. Ia bahkan mungkin tidak menyadari bahwa tindakannya telah meninggalkan kesan sedalam itu.
Ia hanya berbincang, bercerita, lalu memberikan sesuatu yang menurutnya bisa menjadi bagian dari kenangan kami.
Barangkali baginya, itu hal biasa.
Tetapi bagiku, malam itu menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Terkadang, ia muncul melalui benda sederhana, percakapan singkat, atau kalimat yang diucapkan tanpa banyak pertimbangan.
Aku masih teringat tumbler yang diberikannya. Gelang onyx hitam yang sempat membuatku sungkan. Kacamata baca bergagang besi dan kacamata hitam yang ia minta agar kubawa.
Semua itu memiliki nilai materi. Namun, pelajaran yang menyertainya terasa jauh lebih berharga.
Aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang apa yang bisa kita bagikan.
Bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga tentang siapa saja yang kita temui dan bagaimana pertemuan itu mengubah cara kita memahami dunia.
Bukan pula tentang seberapa sering nama kita disebut orang lain, melainkan tentang apakah kehadiran kita pernah meninggalkan kebaikan dalam kehidupan seseorang.
Jakarta memang memberi banyak cerita.
Di kota ini, kita bisa bertemu orang-orang yang datang dengan mimpi besar, mereka yang sedang berjuang mempertahankan hidup, dan mereka yang diam-diam menyimpan kisah yang tidak pernah diketahui banyak orang.
Ada yang mengajarkan keberanian melalui perjuangannya. Ada yang mengajarkan kesabaran melalui ketabahannya. Dan ada pula yang mengajarkan keikhlasan melalui sesuatu yang sederhana: memberi kepada orang yang baru dikenalnya.
Aku tidak tahu bagaimana kehidupan Pak Ogah setelah malam itu. Aku juga tidak tahu apakah ia masih mengingat percakapan kami atau menganggapnya sebagai pertemuan biasa yang segera berlalu.
Namun, aku ingin menyimpan cerita ini sebagai pengingat bagi diriku sendiri.
Bahwa kita tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk melakukan sesuatu yang berarti.
Kita tidak perlu menunggu memiliki banyak harta untuk menunjukkan kepedulian. Kita juga tidak harus dikenal banyak orang untuk meninggalkan kesan yang baik.
Terkadang, cukup dengan hadir, mendengarkan, dan berbagi dengan tulus, kita telah menjadi bagian dari cerita yang akan diingat seseorang.
Malam itu, tubuhku memang lelah. Tetapi dari seorang pedagang kecil di sekitar Masjid Istiqlal, aku pulang membawa sesuatu yang tidak pernah kucari.
Sebuah pelajaran tentang ikhlas.
Dan kini, aku memahami sedikit demi sedikit maksud kalimat yang terus diucapkannya:
“Supaya ada cerita dalam hidup kita.”
Ya, Pak Ogah. Kini ada cerita itu.
Cerita tentang seorang asing yang memberikan barang-barangnya tanpa banyak bertanya. Tentang seseorang yang mengingatkanku bahwa kebaikan tidak selalu lahir dari kelimpahan. Tentang pertemuan singkat yang meninggalkan pertanyaan panjang dalam hati.
Mungkin, suatu hari, tumbler itu akan berhenti digunakan. Gelang onyx itu mungkin akan tersimpan di suatu tempat. Kacamata itu pun bisa saja suatu saat tak lagi berada di tanganku.
Namun, aku berharap pelajaran dari pertemuan tersebut tidak ikut hilang.
Sebab, pada akhirnya, yang membuat sebuah pemberian benar-benar berharga bukanlah semata-mata benda yang kita terima, melainkan kebaikan yang mengiringinya dan perubahan yang ditinggalkannya dalam diri kita.
Jangan menunggu hidup berkelimpahan untuk belajar berbagi. Jangan menunggu menjadi orang hebat untuk melakukan kebaikan. Dan jangan menganggap seseorang biasa saja hanya karena penampilannya sederhana.
Bisa jadi, orang yang kita temui hanya sebentar itulah yang mengajarkan sesuatu yang selama ini luput kita pahami.
Jakarta memberi banyak cerita.
Dan salah satu cerita yang akan kubawa pulang adalah tentang Pak Ogah, seorang pedagang tasbih dan gelang batu yang pada suatu dini hari mengajarkanku bahwa terkadang, hati yang lapang lebih berharga daripada tangan yang penuh dengan apa yang kita miliki.
(Diceritakan oleh Novrizal R Topa)









