FNEWS.ID MUNA – Di tengah bentang karst Pulau Muna yang sunyi dan berlapis waktu, dinding-dinding batu Liang Kabori menyimpan cerita yang tak pernah ditulis dengan tinta. Ia diguratkan dengan pigmen cokelat, hitam, dan merah, seakan bercerita tentang manusia, perahu, hewan, dan langit. Tentang cara hidup yang telah berlangsung ribuan tahun, jauh sebelum kata “Indonesia” dikenal dunia.
Seni cadas di kawasan karst Liang Kabori bukan sekadar lukisan prasejarah. Ia adalah arsip budaya visual yang merekam perjalanan manusia Muna dari pemburu hingga peramu, menuju masyarakat maritim dan pertanian yang terhubung dengan jaringan besar budaya Austronesia di Asia Tenggara dan Pasifik.
Namun hari ini, arsip batu itu berada di persimpangan: antara lestari atau lenyap tanpa jejak.
Perahu di Batu, Ingatan tentang Laut
Salah satu motif paling dominan di Liang Kabori adalah perahu. Digambarkan dengan layar, cadik, kemudi, bahkan figur manusia di atasnya. Perahu-perahu itu bukan hiasan. Ia adalah simbol dunia: mobilitas, teknologi, dan identitas.
Dalam kebudayaan Austronesia, perahu bukan hanya alat transportasi, tetapi lambang kehidupan. Penghubung pulau, manusia, dan kosmos. Motif serupa ditemukan dari Sulawesi, Maluku, Timor, hingga Pasifik Barat. Dari sini, Liang Kabori menempatkan Pulau Muna dalam jalur penting peradaban maritim itu.
Yang membuatnya semakin bermakna, bentuk perahu di dinding karst itu masih hidup hari ini. Koli-koli, sope-sope, dan pahela atau sebuah perahu tradisional Muna yang hingga kini masih masih berlayar, seolah menjawab panggilan gambar cadas yang dibuat leluhur mereka ribuan tahun lalu.
Dari Cap Tangan hingga Layang-Layang
Tak semua gambar di Liang Kabori berbicara tentang laut. Di beberapa ceruk, tampak cap tangan berwarna merah, jejak paling awal kehadiran manusia. Ia adalah tanda eksistensi, lagi-lagi seakan bercerita “aku pernah di sini”.
Pada lapisan waktu berikutnya, manusia digambarkan berburu, menggembala hewan, berkelahi, bahkan bermain layang-layang. Motif ini menjadi kunci penting pembacaan budaya.
Layang-layang dalam seni cadas Liang Kabori berkaitan langsung dengan tradisi Kaghati Roo Kolope, ritual masyarakat Muna untuk menjaga ladang dari hama. Tradisi itu masih dipraktikkan hingga kini. Artinya, seni cadas bukan masa lalu yang mati, ia hidup, berlanjut, dan diwariskan.
Inilah kekuatan situs Liang Kabori, suatu kontinuitas budaya.
Situs yang Rapuh, Ancaman yang Nyata
Ironisnya, justru karena terbuka dan mudah diakses, seni cadas Liang Kabori berada dalam kondisi rentan. Pigmen yang menempel di batu karst sangat sensitif terhadap sentuhan, air, asap, dan perubahan lingkungan Dimana, ancaman datang dari berbagai arah:
- Pelapukan alami akibat iklim dan kelembapan,
- Coretan dan vandalisme, disengaja maupun tidak,
- Aktivitas penambangan dan pembukaan lahan di kawasan karst,
- Kunjungan tanpa pengelolaan, tanpa jalur aman dan edukasi situs.
Sebagian gambar telah memudar. Sebagian lainnya nyaris tak terbaca. Sekali hilang, ia tak bisa ditulis ulang.
“Ini bukan sekadar lukisan di batu. Ini ingatan kolektif manusia,” tulis salah satu peneliti seni cadas Indonesia. Ketika satu gambar hilang, hilang pula satu halaman sejarah.
Pelestarian: Antara Pengetahuan dan Keberpihakan
Pelestarian Liang Kabori tidak cukup hanya dengan papan larangan. Ia membutuhkan:
- Penetapan zonasi ketat kawasan karst,
- Dokumentasi digital menyeluruh (3D scanning, fotografi resolusi tinggi),
- Pelibatan masyarakat lokal sebagai penjaga situs,
- Narasi publik yang kuat, agar masyarakat tahu apa yang sedang dipertaruhkan.
Masyarakat Muna sejatinya bukan ancaman, mereka adalah kunci. Ketika situs ini dipahami sebagai bagian dari identitas mereka sendiri, pelestarian akan tumbuh dari dalam, bukan sekadar perintah dari luar.
Batu yang Mengingat, Manusia yang Menentukan
Liang Kabori telah bertahan ribuan tahun. Ia menyaksikan manusia berubah, laut dilayari, budaya tumbuh dan berpindah. Tapi masa depannya kini bergantung pada satu hal, “keputusan manusia hari ini”.
Apakah seni cadas itu akan tetap menjadi dinding yang berbicara kepada generasi mendatang, atau berubah menjadi batu bisu yang kehilangan maknanya?
Di Pulau Muna, sejarah tidak terkubur di tanah. Ia terpampang di dinding batu. Tinggal satu pertanyaan, “masihkah kita mau mendengarnya?”
(Ditulis oleh Novrizal R Topa, yang dihimpun dari beberapa sumber penelitian Amaluddin Sope Jurusan Arkeologi, Universitas Halu Oleo, dengan judul MELACAK JEJAK BUDAYA PADA WARISAN SENI CADAS
KAWASAN KARST LIANG KABORI, PULAU MUNA
Penulis : Novrizal R Topa









