Abdul Rahman dan PAN Yang Berganti Nakhoda serta Pertanyaan Besar Menuju 2029

- Jurnalis

Rabu, 9 September 2026 - 16:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masihkah Abdul Rahman memiliki jalan politik menuju 2029 setelah PAN yang pernah mengusungnya kini dinahkodai Ringa Jhon?

 

MUNA – Pada Pilkada Muna 2024, Abdul Rahman maju bersama Awal Jaya Bolombo dengan dukungan PAN dan Demokrat. Pasangan ini memperoleh 4.331 suara atau 3,67 persen. Dua tahun kemudian, lanskap politik berubah. PAN Muna kini dipimpin Ringa Jhon, figur yang pada Pilkada 2024 maju dari koalisi berbeda. Pergantian nakhoda ini tidak otomatis menutup jalan Abdul Rahman, tetapi jelas mengubah peta posisi tawarnya menuju 2029.

 

Politik tidak selalu bergerak melalui kemenangan.

Kadang justru kekalahan meninggalkan data yang paling berharga.

Pilkada Muna 2024 meninggalkan data penting bagi Abdul Rahman.

Ia maju bersama Awal Jaya Bolombo dengan dukungan PAN dan Partai Demokrat. Secara formal, koalisi tersebut memiliki basis elektoral sebesar 17.099 suara pada Pemilu Legislatif 2024. PAN menyumbang 4.635 suara, sedangkan Demokrat 12.464 suara. KPU menetapkan pasangan itu sebagai salah satu peserta Pilkada Muna 2024. (JDIH KPU)

Namun ketika suara dihitung pada Pilkada, hasilnya hanya:

4.331 suara.

Atau sekitar:

3,67 persen.

Sementara dua pasangan teratas—Bachrun–Asrafil dan Rajiun–Purnama—menguasai lebih dari 100 ribu suara. (Mahkamah Konstitusi)

Secara politik, angka itu menunjukkan bahwa kendaraan partai yang cukup besar tidak otomatis berubah menjadi kekuatan kandidat.

Namun ada perkembangan lain yang membuat posisi Abdul Rahman semakin menarik dibaca.

Pada 2026, PAN Muna telah berganti kepemimpinan dan kini dinahkodai Ringa Jhon. Aktivitas resmi PAN Muna pada Agustus 2026 juga menampilkan Ringa Jhon sebagai Ketua DPD PAN Muna. (mitranusantara.id)

Ini menciptakan perubahan konstelasi yang signifikan.

Pada 2024:

PAN → Abdul Rahman

Pada 2026:

PAN Muna → Ringa Jhon

Sementara keduanya pernah berada dalam jalur politik berbeda pada Pilkada 2024.

Maka pertanyaan CAPOT bukan apakah Abdul Rahman telah selesai.

Pertanyaannya jauh lebih strategis:

Apakah Abdul Rahman masih memiliki nilai politik yang cukup besar untuk kembali memperoleh kendaraan menuju 2029?

 

FAKTA

Abdul Rahman maju dengan kendaraan PAN–Demokrat

Dokumen KPU Kabupaten Muna Nomor 868 Tahun 2024 mencatat Abdul Rahman–Awal Jaya Bolombo sebagai pasangan yang diusung PAN dan Partai Demokrat dengan total 17.099 suara partai. (JDIH KPU)

Komposisinya:

Partai Suara Pileg 2024
PAN 4.635
Demokrat 12.464
Total 17.099

Secara agregat, koalisi itu memiliki modal suara yang cukup berarti.

Tetapi modal tersebut tidak otomatis menjadi suara kandidat.

 

Hasil Pilkada hanya 4.331 suara

KPU menetapkan hasil akhir Pilkada Muna 2024:

Pasangan Suara
Bachrun–Asrafil 53.908
Rajiun–Purnama 47.655
Kardini–Noor Dhani 11.563
Abdul Rahman–Awal Jaya 4.331
Ringa Jhon–Syarifuddin 629

Total suara sah mencapai 118.086. (Mahkamah Konstitusi)

Dengan demikian, Abdul Rahman memperoleh:

3,67 persen suara sah.

Dua pasangan teratas mengumpulkan 101.563 suara atau sekitar 86 persen suara sah.

Dengan konfigurasi seperti ini, ruang bagi kandidat lain menjadi sangat sempit.

 

CERITA

17.099 bukan 17.099 pemilih Abdul Rahman

Angka 17.099 harus dibaca secara hati-hati.

Itu adalah akumulasi suara PAN dan Demokrat pada Pemilu Legislatif 2024.

Bukan jaminan bahwa 17.099 pemilih tersebut akan memilih Abdul Rahman pada Pilkada.

Seorang pemilih dapat memilih caleg Demokrat pada Pileg tetapi memilih pasangan dari partai lain saat Pilkada.

Pemilih PAN juga dapat mengikuti figur caleg tertentu, keluarga, tokoh desa atau jaringan sosial lain.

Karena itu:

17.099 = modal politik koalisi

bukan:

17.099 = suara pasti Abdul Rahman.

Meski demikian, perbandingan tetap menarik.

17.099 → 4.331

Secara matematis, suara pasangan hanya setara sekitar 25,3 persen dari akumulasi suara partai pengusung.

Gap-nya:

12.768 suara.

Angka tersebut tidak boleh disebut sebagai “suara yang hilang”.

Lebih tepat disebut:

gap konversi antara kekuatan partai dan dukungan terhadap kandidat.

Dan gap ini menjadi salah satu bahan evaluasi terpenting bagi Abdul Rahman jika ingin kembali ke arena politik.

 

TOKOH

Abdul Rahman: figur profesional yang belum menjadi brand elektoral massal

Pada Pilkada 2024, Abdul Rahman tampil dengan identitas profesional sebagai advokat serta membawa narasi perubahan pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam pemberitaan kampanye, ia menawarkan sejumlah agenda di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, UKM, pendidikan dan pelayanan publik.

Secara positioning, ia mencoba membangun citra:

figur profesional + wajah baru + pemerintahan bersih.

Namun hasil akhir memperlihatkan bahwa positioning tersebut belum berubah menjadi daya elektoral massal.

Ini merupakan persoalan penting.

Sebab dalam politik, dikenal bukan berarti dipilih.

Dan menjadi kandidat bukan berarti memiliki basis pemilih.

 

AWAL JAYA BOLOMBO: ASET YANG PERNAH DIMILIKI

Abdul Rahman juga tidak maju sendirian.

Awal Jaya Bolombo memiliki pengalaman politik lokal dan jejaring Demokrat. Data KPU menunjukkan rekam politiknya sebagai figur Demokrat dan anggota DPRD Muna pada periode sebelumnya.

Dengan demikian formula 2024 sebenarnya memiliki empat komponen:

Abdul Rahman → figur profesional

Awal Jaya → pengalaman politik lokal

PAN → kantong suara kuat

Demokrat → jaringan lebih tersebar

Baca Juga:  Sabuk Hitam: Simbol Kebijaksanaan dan Pengendalian Diri

Secara struktural, formula tersebut tidak dapat disebut lemah.

Persoalannya adalah efektivitas konsolidasi.

 

PETA PAN–DEMOKRAT

Data Pileg menunjukkan distribusi kekuatan PAN dan Demokrat tidak sama.

Dapil PAN Demokrat Gabungan
Muna 1 406 2.905 3.311
Muna 2 35 333 368
Muna 3 112 2.265 2.377
Muna 4 409 1.814 2.223
Muna 5 177 1.834 2.011
Muna 6 3.496 3.313 6.809
Total 4.635 12.464 17.099

Data tersebut memperlihatkan bahwa Dapil 6 merupakan pusat gravitasi PAN–Demokrat, dengan 6.809 suara gabungan. Sekitar tiga perempat suara PAN sendiri berada di Dapil 6.

Sementara Demokrat lebih tersebar di sejumlah dapil.

Implikasinya:

PAN memiliki kantong. Demokrat memiliki sebaran.

Kombinasi tersebut secara teori menarik untuk kontestasi kepala daerah.

Tetapi hasil Pilkada menunjukkan bahwa kombinasi tersebut belum terkonsolidasi menjadi basis Abdul Rahman.

 

PERUBAHAN TERBESAR: PAN BERGANTI NAKHODA

Inilah titik yang membedakan situasi 2026 dengan 2024.

Pada Pilkada 2024, PAN menjadi kendaraan Abdul Rahman.

Kini struktur PAN Muna berada di bawah Ringa Jhon. Aktivitas DPD PAN Muna pada Agustus 2026 menegaskan posisi Ringa Jhon sebagai Ketua DPD PAN Muna. (mitranusantara.id)

Perubahan ini harus dibaca secara hati-hati.

Tidak ada dasar untuk menyebut bahwa Abdul Rahman dan Ringa Jhon sedang berkonflik.

Tidak pula ada dasar untuk menyatakan bahwa Abdul Rahman telah kehilangan akses kepada PAN.

Yang dapat dikatakan adalah:

pusat pengambilan keputusan politik di tingkat DPD PAN Muna kini berada pada kepemimpinan yang berbeda dibandingkan ketika Abdul Rahman menjadi kandidat pada 2024.

Itu saja sudah cukup untuk mengubah peta posisi tawar.

 

ANALISIS CAPOT

Abdul Rahman kini tidak hanya menghadapi persoalan elektabilitas

Sebelum 2026, pertanyaan terhadap Abdul Rahman relatif sederhana:

berapa suara yang bisa ia dapatkan?

Sekarang pertanyaannya menjadi dua:

  1. Seberapa besar basis personal Abdul Rahman?

dan

  1. Seberapa dekat atau jauh hubungan politiknya dengan PAN di bawah kepemimpinan baru?

Ini dua pertanyaan yang berbeda.

Karena partai memiliki struktur.

Kandidat memiliki basis personal.

Ketika struktur berubah, kandidat yang tidak memiliki basis personal yang cukup kuat akan lebih rentan kehilangan kendaraan politik.

 

ABDUL RAHMAN: MANTAN KANDIDAT ATAU ASET POLITIK?

Di sinilah 4.331 suara menjadi penting.

Angka itu memang kecil dibandingkan dua kandidat teratas.

Tetapi angka tersebut tetap lebih tinggi daripada 629 suara Ringa Jhon pada Pilkada yang sama. (Mahkamah Konstitusi)

Namun kita tidak boleh berhenti di angka total.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Di mana 4.331 suara Abdul Rahman berada?

Jika ternyata terkonsentrasi kuat di beberapa kecamatan/desa, maka masih terdapat core constituency.

Jika tersebar tipis di hampir seluruh wilayah, maka basis personalnya mungkin belum solid.

Data kabupaten saja belum cukup menjawab pertanyaan tersebut.

Karena itu, analisis berikutnya harus turun ke:

kecamatan → desa → TPS.

 

POSISI ABDUL RAHMAN TERHADAP PAN

Ada tiga kemungkinan utama.

Pertama: hubungan tetap terbuka

Meskipun PAN kini dipimpin Ringa Jhon, kepentingan politik dapat membuat Abdul Rahman tetap menjadi salah satu opsi.

Ini mungkin terjadi apabila Abdul Rahman mampu menunjukkan basis personal yang lebih besar daripada 2024.

Kedua: PAN mencari figur baru

Jika PAN menemukan kandidat dengan elektabilitas dan jaringan lebih kuat, Abdul Rahman bisa kehilangan prioritas.

Ini merupakan risiko nyata.

Ketiga: Abdul Rahman membangun posisi tawar di luar PAN

Ini justru strategi yang dapat mengubah seluruh persoalan.

Semakin kuat jaringan Abdul Rahman di luar struktur partai, semakin kecil ketergantungannya pada keputusan satu partai.

Dalam politik:

figur yang membutuhkan partai memiliki posisi tawar berbeda dengan figur yang dibutuhkan partai.

 

POLITICAL INTELLIGENCE: RINGA JHON SEBAGAI VARIABEL, BUKAN TUJUAN

Ringa Jhon tidak perlu ditempatkan sebagai “lawan Abdul Rahman”.

Posisi yang lebih tepat adalah:

variabel politik baru.

Sebab Ringa Jhon sekarang membawa:

struktur PAN

jabatan ketua

akses kader

jaringan partai

dan target ekspansi PAN menuju Pemilu 2029.

Dalam berita Agustus 2026, Ringa Jhon juga tampil menggerakkan aktivitas sosial DPD PAN Muna. (mitranusantara.id)

Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan baru PAN mulai membangun visibilitas organisasi.

Apakah aktivitas tersebut akan menghasilkan peningkatan elektoral?

Belum dapat disimpulkan.

Tetapi secara Political Intelligence, pergerakan tersebut layak dipantau.

 

ABDUL RAHMAN DAN RINGA JHON: DUA JALUR POLITIK

Pada 2024:

Abdul Rahman
→ kandidat PAN–Demokrat
→ 4.331 suara

Ringa Jhon
→ kandidat Hanura–Perindo–PPP
→ 629 suara. (Mahkamah Konstitusi)

Pada 2026:

Abdul Rahman
→ membangun kembali modal sosial dan politik

Ringa Jhon
→ memimpin PAN Muna

Dengan demikian terjadi perubahan posisi:

Yang dulu memiliki kendaraan, sekarang tidak mengendalikan kendaraan itu.

Sementara:

Yang dulu berada di luar PAN, sekarang berada di kursi kemudi PAN Muna.

Tidak diperlukan konflik untuk membuat perubahan ini menjadi signifikan.

Perubahan struktur itu sendiri sudah cukup penting.

 

INDIKATOR APA YANG HARUS DIPANTAU?

Untuk menentukan apakah Abdul Rahman masih menjadi pemain serius menuju 2029, CAPOT perlu melihat tujuh indikator.

  1. Basis personal
Baca Juga:  Mengapa Visi Misi Menjadi Pondasi Penting Dunia Usaha

Apakah aktivitas Abdul Rahman menghasilkan dukungan baru?

  1. Distribusi geografis

Apakah ia mulai menembus dapil di luar basis PAN–Demokrat sebelumnya?

  1. Hubungan dengan PAN

Apakah komunikasi politik dengan struktur PAN tetap terbuka?

  1. Hubungan dengan Demokrat

Apakah jaringan Demokrat masih menjadi bagian dari orbit politik Abdul Rahman?

  1. Aktivitas sosial

Apakah posisi sosialnya berkembang menjadi legitimasi publik?

Pada 2026, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua IKA SMA Negeri 1 Raha periode 2026–2030. Peran tersebut tidak otomatis merupakan mesin politik, tetapi dapat menjadi ruang jejaring sosial.

  1. Isu khas

Apakah Abdul Rahman memiliki isu yang membuat publik mengenal dirinya bahkan tanpa baliho?

  1. Kemampuan mengumpulkan dukungan tanpa tiket

Ini indikator terpenting:

Jika partai belum menentukan sikap, apakah jaringan Abdul Rahman tetap bergerak?

Jika jawabannya ya, maka daya tawarnya meningkat.

 

SKENARIO 2029

SKENARIO 1 – Abdul Rahman kembali melalui PAN

Ini akan menjadi salah satu konfigurasi paling menarik.

Mantan kandidat PAN kembali memperoleh dukungan dari PAN di bawah kepemimpinan baru.

Secara politik, ini berarti:

rekonsiliasi kepentingan.

Tetapi untuk sampai ke titik itu, Abdul Rahman harus memiliki nilai politik yang cukup tinggi.

Status: terbuka.

 

SKENARIO 2 – PAN memilih figur lain

Jika Ringa Jhon dan struktur PAN menemukan figur dengan elektabilitas lebih tinggi, Abdul Rahman dapat kehilangan jalur tersebut.

Dalam keadaan ini, pengalaman 2024 menjadi modal tetapi bukan jaminan.

Status: realistis.

 

SKENARIO 3 – Abdul Rahman membangun kendaraan alternatif

Ini dapat menjadi strategi untuk meningkatkan posisi tawar.

Bukan menunggu partai.

Tetapi terlebih dahulu membangun basis.

Kemudian partai yang datang.

Status: strategis.

 

SKENARIO 4 – Abdul Rahman menjadi calon Wakil Bupati

Dengan pengalaman sebagai kandidat, pemahaman terhadap arena Pilkada, dan jaringan yang pernah dibangun, ia dapat menjadi bagian dari formula koalisi yang lebih besar.

Ini dapat lebih realistis daripada memaksakan pencalonan sebagai Bupati apabila elektabilitas belum mencapai level kandidat utama.

Status: terbuka.

 

SKENARIO 5 – Abdul Rahman menjadi kingmaker

Pilihan paling tidak terlihat tetapi tetap mungkin.

Ia tidak maju.

Namun ia memiliki cukup jaringan untuk memengaruhi kandidat mana yang memiliki peluang lebih besar.

Status: bergantung pada pertumbuhan jaringan 2026–2028.

 

VERDICT CAPOT

ABDUL RAHMAN: BELUM SELESAI, TETAPI HARUS MEMBANGUN ULANG POSISI TAWAR

Data saat ini belum cukup untuk menyebut Abdul Rahman sebagai calon kuat Bupati Muna 2029.

Tetapi juga terlalu dini menyebutnya selesai.

Ia memiliki beberapa modal:

4.331 suara Pilkada 2024

pengalaman sebagai kandidat

riwayat dukungan PAN–Demokrat

jaringan Awal Jaya dan Demokrat

pengalaman langsung menghadapi pemilih Muna

modal sosial yang masih berkembang. (JDIH KPU)

Namun ada satu perubahan yang tidak dapat diabaikan:

PAN yang dahulu menjadi kendaraan Abdul Rahman kini berada di bawah kepemimpinan Ringa Jhon.

Itu berarti Abdul Rahman tidak dapat lagi mengandalkan hubungan politik masa lalu sebagai jaminan masa depan.

Ia harus menciptakan nilai politik baru.

Karena pada 2029, partai tidak hanya akan bertanya:

“Siapa yang pernah kita usung?”

Partai akan bertanya:

“Siapa yang bisa membawa suara?”

Dan untuk Abdul Rahman, pekerjaan mulai sekarang adalah membuktikan bahwa angka 4.331 bukan puncaknya.

Melainkan baseline.

 

PENUTUP

Pilkada Muna 2024 mungkin telah berakhir.

Tetapi bagi Abdul Rahman, pertarungan politik belum tentu selesai.

Ia pernah berada di dalam kendaraan PAN–Demokrat.

Sekarang kendaraan itu telah berganti nakhoda.

Ringa Jhon berada di kursi Ketua DPD PAN Muna. (mitranusantara.id)

Namun perubahan tersebut tidak otomatis menutup semua pintu.

Politik selalu menyediakan kemungkinan rekonsiliasi, perpindahan kendaraan, pembentukan koalisi baru atau bahkan lahirnya poros alternatif.

Yang menentukan bukan nostalgia politik 2024.

Yang menentukan adalah nilai politik Abdul Rahman pada 2028–2029.

Apakah ia berhasil mengubah:

4.331 suara

menjadi:

basis personal?

Apakah ia mampu mengubah:

kekalahan

menjadi:

jaringan?

Dan apakah jaringan itu cukup kuat sehingga:

PAN membutuhkan Abdul Rahman, bukan Abdul Rahman yang hanya membutuhkan PAN?

Di situlah masa depan politik Abdul Rahman di Muna akan ditentukan.

CAPOT membaca politik bukan hanya dari siapa yang memegang partai hari ini, tetapi dari siapa yang sedang membangun kekuatan untuk memenangkan pertarungan berikutnya.

 

CATATAN REDAKSI

Tulisan ini merupakan analisis politik, bukan tuduhan/disktreditkan terhadap individu, partai politik, maupun kelompok tertentu. Data perolehan suara dan posisi kepartaian merujuk pada dokumen serta sumber yang disebutkan dalam tulisan. Adapun interpretasi, pembacaan peta kekuatan, dan skenario menuju 2029 merupakan analisis CAPOT yang didasarkan pada data dan dinamika politik yang tersedia saat tulisan ini disusun.

Setiap kemungkinan politik dalam tulisan ini bersifat proyeksi, bukan kepastian. Perubahan dukungan partai, koalisi, elektabilitas, maupun konfigurasi kandidat dapat terjadi seiring perkembangan politik menuju 2029. CAPOT membedakan antara fakta yang terverifikasi, interpretasi jurnalistik, dan skenario analitis untuk menjaga keberimbangan dan menghindari kesimpulan yang melampaui data.

 

Follow WhatsApp Channel fnews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Matraman Dalam dan Menteng: Jejak Sejarah di Jantung Ibu Kota
Dari Tanah Karst Menuju Banten: Catatan Perjalanan HPN 2026
Mengapa Visi Misi Menjadi Pondasi Penting Dunia Usaha
Ekor yang Menyimpan Cerita: Membaca Karakter Kucing dari Panjang dan Pendeknya Ekor
Sejarah Panjang Koperasi di Indonesia: Dari Hulp EN Spaarbank Hingga Dekopin
Merokok Sebabkan Dehidrasi, Kenali Efek dan Cara Mengatasinya
Jangan Asal Katakan! Begini Arti Kata Goblok dalam KBBI
KPU Sultra Mantapkan Persiapan Debat Publik Terakhir Cagub dan Cawagub
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 16:38 WIB

Abdul Rahman dan PAN Yang Berganti Nakhoda serta Pertanyaan Besar Menuju 2029

Minggu, 15 Februari 2026 - 19:40 WIB

Matraman Dalam dan Menteng: Jejak Sejarah di Jantung Ibu Kota

Minggu, 8 Februari 2026 - 09:31 WIB

Dari Tanah Karst Menuju Banten: Catatan Perjalanan HPN 2026

Senin, 19 Januari 2026 - 12:27 WIB

Mengapa Visi Misi Menjadi Pondasi Penting Dunia Usaha

Senin, 12 Januari 2026 - 10:27 WIB

Ekor yang Menyimpan Cerita: Membaca Karakter Kucing dari Panjang dan Pendeknya Ekor

Berita Terbaru

CAPOT UTAMA

Pembangunan Besar, Suara Tidak Selalu Ikut Besar

Sabtu, 5 Sep 2026 - 10:33 WIB