Matraman Dalam dan Menteng: Jejak Sejarah di Jantung Ibu Kota

- Jurnalis

Minggu, 15 Februari 2026 - 19:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

FNEWS.ID, JAKARTA – Di jantung ibu kota, Matraman Dalam dan Menteng berdiri sebagai dua ruang yang bertaut secara administratif namun lahir dari latar sejarah yang berbeda. Matraman Dalam RW 08 secara administratif berada di wilayah Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Namun jika ditarik jauh ke belakang, kawasan ini menyimpan jejak sejarah yang lebih tua dari wajah Menteng yang kini dikenal sebagai kawasan elite dan cagar budaya.

Nama Matraman diyakini berasal dari istilah “Mataraman”, merujuk pada pasukan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung yang menyerang Batavia pada 1628-1629. Saat itu Batavia berada di bawah kekuasaan VOC. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa pasukan Mataram membangun pos dan benteng pertahanan di wilayah sekitar tepian Sungai Ciliwung yang kala itu masih berupa rawa dan semak belukar. Meski serangan tersebut gagal menaklukkan Batavia, sebagian prajurit diyakini tidak kembali ke tanah Jawa. Mereka menetap, berbaur dengan penduduk lokal, dan membentuk komunitas yang kemudian hari menjadi bagian dari masyarakat Betawi dengan pengaruh budaya Jawa yang kental.

Tradisi lisan warga juga menyimpan kisah tentang seorang pangeran Mataram yang menancapkan tongkatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Palmeriam. Titik tersebut dipercaya menjadi asal-usul penamaan Matraman. Wilayah Matraman Dalam kerap dikaitkan dengan keberadaan masjid kecil di pinggir Ciliwung serta bangunan bergaya arsitektur Jawa bertiang besar yang pernah berdiri di sana.

Baca Juga:  Sejarah Panjang Koperasi di Indonesia: Dari Hulp EN Spaarbank Hingga Dekopin

Pada masa kolonial, bangunan tersebut disebut sempat difungsikan ulang oleh pemerintah Belanda. Kawasan ini pun berada dalam pusaran dinamika kekuasaan ketika Inggris mengambil alih Batavia pada awal abad ke-19 sebelum akhirnya kembali ke tangan Belanda.

Berbeda dengan Matraman yang tumbuh dari dinamika perlawanan dan komunitas organik, Menteng lahir dari gagasan perencanaan kota modern pada awal abad ke-20. Pada 1910-an, kawasan ini dirancang sebagai garden city pertama di Batavia oleh arsitek Belanda PAJ Moojen. Konsepnya mengikuti model kota taman Eropa dengan jalan-jalan melengkung, ruang terbuka hijau luas, dan kanal sebagai bagian dari tata lingkungan yang terencana. Pengembangannya dilakukan oleh perusahaan properti NV de Bouwploeg, yang membangun hunian tropis elite bergaya Indische Empire dan Art Deco bagi pejabat kolonial serta kaum elite pribumi.

Nama “Menteng” sendiri diambil dari banyaknya pohon buah menteng yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut. Pada dekade 1920-an, kawasan ini dikenal sebagai Europese Buurt atau lingkungan Eropa karena dominasi rumah-rumah mewah yang dihuni pejabat kolonial. Penyempurnaan rancangan kawasan kemudian dilanjutkan oleh arsitek FJ Kubatz. Salah satu ikon pentingnya adalah Stadion Menteng yang dibangun pada 1921 sebagai fasilitas olahraga warga Eropa. Stadion tersebut kemudian dibongkar dan dialihfungsikan menjadi Taman Menteng pada 2007 sebagai ruang terbuka publik.

Baca Juga:  Nastar, Kue Lebaran Yang Ada Sejak Zaman Kolonial

Menteng juga tercatat sebagai tempat tinggal masa kecil Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama, yang menetap di kawasan ini pada 1967-1971. Dalam berbagai kesempatan, ia mengenang suasana Menteng yang masih rindang dan asri, dengan kehidupan kampung kota yang akrab.

Dalam satu garis administratif yang sama, Matraman Dalam dan Menteng mencerminkan dua fase penting sejarah Jakarta: yang satu tumbuh dari semangat perlawanan abad ke-17, yang lain lahir dari visi tata kota kolonial awal abad ke-20.

Jika Menteng menjadi simbol perencanaan modern dan hunian elite, Matraman Dalam merepresentasikan denyut kampung kota dengan memori kolektif yang lebih tua. Keduanya memperlihatkan bagaimana Jakarta berkembang dari rawa dan kebun menjadi benteng pertahanan, lalu berubah menjadi kota taman modern yang kini menjadi pusat pemerintahan dan kehidupan metropolitan.

Sumber referensi penulisan ini antara lain, Sejarah Nasional Indonesia Jilid III yang membahas ekspedisi Sultan Agung ke Batavia tahun 1628-1629, Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680 karya Anthony Reid mengenai konteks politik dan militer Asia Tenggara abad ke-17, Sejarah Jakarta terbitan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, serta kajian arsitektur tentang Menteng dalam Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia dan arsip kolonial Hindia Belanda mengenai pengembangan kawasan oleh NV de Bouwploeg.

 

Penulis : Redaksi

Follow WhatsApp Channel fnews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Tanah Karst Menuju Banten: Catatan Perjalanan HPN 2026
Mengapa Visi Misi Menjadi Pondasi Penting Dunia Usaha
Ekor yang Menyimpan Cerita: Membaca Karakter Kucing dari Panjang dan Pendeknya Ekor
Kaghati Kolope: Layang-Layang Purba dari Liang Kabori, Jejak Imajinasi Leluhur di Perbukitan Karst Muna
Festival Kaghati Kolope Kembali Digelar di Liang Kabori, Kades Farlin Ajak Warga Ramaikan Event Budaya Tahunan
Kue Putu Cangkir: Cita Rasa Tradisional yang Melekat di Hati Makassar
Sejarah Panjang Koperasi di Indonesia: Dari Hulp EN Spaarbank Hingga Dekopin
Merokok Sebabkan Dehidrasi, Kenali Efek dan Cara Mengatasinya
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 15 Februari 2026 - 19:40 WIB

Matraman Dalam dan Menteng: Jejak Sejarah di Jantung Ibu Kota

Minggu, 8 Februari 2026 - 09:31 WIB

Dari Tanah Karst Menuju Banten: Catatan Perjalanan HPN 2026

Senin, 19 Januari 2026 - 12:27 WIB

Mengapa Visi Misi Menjadi Pondasi Penting Dunia Usaha

Senin, 12 Januari 2026 - 10:27 WIB

Ekor yang Menyimpan Cerita: Membaca Karakter Kucing dari Panjang dan Pendeknya Ekor

Minggu, 13 Juli 2025 - 08:47 WIB

Kaghati Kolope: Layang-Layang Purba dari Liang Kabori, Jejak Imajinasi Leluhur di Perbukitan Karst Muna

Berita Terbaru

Kadis Pariwisata Muna, La Ode Masrul, saat mengunjungi salah satu situs yang berada di kawasan Karst Liang Kabori (Foto: Ist)

Feature

Liang Kabori, Saat Leluhur Berbicara dari Dinding Karst

Rabu, 4 Feb 2026 - 15:41 WIB