Oleh: Novrizal R Topa
(Anggota Persatuan Wartawan Indonesia, Sulawesi Tenggara)
FNEWS.ID – Pagi di Muna selalu dimulai dengan batu. Karst yang kokoh, putih keabu-abuan, menyimpan kisah tua tentang air, waktu, dan ketahanan. Dari celah-celahnya, kehidupan tumbuh pelan tapi pasti, seperti pers daerah yang bekerja dalam senyap, jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan. Di sanalah nilai-nilai jurnalisme menemukan ejawantahnya: bertahan, jujur, dan berpihak pada publik.
Langit Raha masih lembap ketika langkah-langkah kecil itu diayunkan. Tas berisi catatan, kamera, dan harapan dipanggul bukan sekadar sebagai perlengkapan liputan, melainkan sebagai ejawantah tanggung jawab moral seorang wartawan, membawa suara daerah ke panggung nasional. Dari Muna, menyeberang laut, menembus pulau, hingga akhirnya mendarat di Banten. Sebuah tanah, dimana pertemuan sejarah, budaya, dan arah baru pers Indonesia.
HPN 2026 bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah titik temu, antara jurnalis daerah dan nasional, antara idealisme dan realitas. Tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” menemukan ejawantahnya dalam diskusi, seminar, dan perjumpaan lintas daerah, tempat gagasan diuji, nilai dipertautkan, dan masa depan pers dirumuskan bersama.
Di Banten, langkah dari tanah karst Muna seolah bertemu dengan denyut sejarah Kesultanan, jejak Baduy, dan geliat ekonomi modern. Rangkaian konvensi, dialog kebudayaan, hingga puncak peringatan HPN 2026 menjadi ruang belajar sekaligus cermin. Sejauh mana pers masih setia pada publik, dan sejauh apa komitmen itu benar-benar ter-ejawantah dalam praktik sehari-hari.
Di antara riuh diskusi dan kilatan kamera, ada jeda sunyi, saat seorang wartawan daerah menyadari bahwa keberangkatannya bukan tentang dirinya. Ia adalah ejawantah dari mandat daerahnya. Ia membawa isu-isu lokal yang kerap terpinggirkan, yang di dalamnya tentang pembangunan yang timpang, suara warga pesisir, desa-desa yang bertahan di atas batu kapur, sebuah situs Purba kala di Liang Kabori yang selalu menjadi pengingat, dan harapan agar pers tetap menjadi penjaga akal sehat publik.
Dari tanah karst menuju Banten, perjalanan ini bukan perjalanan fisik semata.
Ia adalah perjalanan nilai.
Perjalanan untuk memastikan bahwa kemerdekaan pers tidak berhenti sebagai jargon, melainkan menemukan ejawantahnya dalam kerja jurnalistik yang jujur, berimbang, dan berpihak pada kepentingan umum.
Ketika HPN 2026 usai dan langkah kembali diarahkan ke timur, ke Muna, yang dibawa pulang bukan hanya sertifikat atau dokumentasi kegiatan. Yang dibawa pulang adalah energi baru, sebuah keyakinan bahwa dari daerah yang tumbuh di atas karst sekalipun, pers dapat menjadi ejawantah kekuatan bangsa, asal tetap merdeka, beretika, dan berakar pada realitas rakyat.
Muna masih di tanah Karst, Liang Kabori masih berdiri kokoh.
Dan dari sanalah, ejawantah cerita Indonesia terus ditulis.









