Andra Soni Memegang Pemerintahan, Siapa Memegang Sentimen Publik?

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026 - 18:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Setelah kemenangan Andra Soni, apakah masyarakat Banten benar-benar telah berpindah pilihan atau hanya berpindah pemimpin?

 

BANTEN – Kemenangan Andra Soni-Achmad Dimyati Natakusumah pada Pilgub Banten 2024 mengubah pusat kekuasaan eksekutif. Tetapi peta politik Banten tidak sesederhana pergantian gubernur. DPRD tetap terfragmentasi, jaringan elite lama masih hidup, sementara percakapan publik bergerak pada isu yang jauh lebih konkret, yakni tentang pendidikan, pekerjaan, infrastruktur, biaya hidup, pelayanan publik dan integritas.

Di ruang digital, pertanyaan yang mulai muncul bukan lagi sekadar siapa menang Pilgub 2024, tetapi siapa figur yang dianggap mampu menyelesaikan persoalan Banten berikutnya?

 

MENGAWALI CERITA

Politik Banten memasuki 2026 dengan situasi yang menarik.

Andra Soni telah memenangkan pertarungan eksekutif.

KPU Banten menetapkan pasangan Andra Soni–Achmad Dimyati Natakusumah memperoleh 3.102.501 suara atau 55,88 persen, sedangkan Airin Rachmi Diany–Ade Sumardi memperoleh 2.449.183 suara atau 44,12 persen. Selisihnya mencapai 653.318 suara. (ejournal.goacademica.com)

Namun kemenangan tersebut belum mengubah Banten menjadi politik satu warna.

Di DPRD Provinsi Banten, Gerindra, Golkar dan PDIP masing-masing memiliki 14 kursi. PKS 13 kursi, Demokrat 11, PKB 10, NasDem 10, PAN 7, PPP 4 dan PSI 3.

Secara sederhana, pemerintah berada di bawah kendali gubernur.

Tetapi kekuasaan politik Banten tetap tersebar.

Dan ada lapisan lain yang sering tidak terlihat dalam tabel kursi:

sentimen masyarakat.

Apa yang sebenarnya dibicarakan warga?

Apa yang membuat mereka puas?

Apa yang membuat mereka marah?

Dan, yang paling penting:

figur seperti apa yang sedang mereka cari?

 

FAKTA

  1. Andra menguasai eksekutif

Andra Soni memimpin Banten bersama Achmad Dimyati Natakusumah untuk periode 2025-2030.

Sebelum menjadi gubernur, Andra merupakan Ketua DPRD Banten periode 2019-2024.

Perubahan dari pimpinan legislatif menjadi gubernur membuat Andra memahami bagaimana keputusan pemerintah harus dinegosiasikan dengan parlemen.

 

  1. DPRD tetap menjadi pusat kekuasaan kedua

Komposisi DPRD Banten hasil Pemilu 2024 terdiri atas 100 kursi yang tersebar pada 10 partai.

Gerindra, Golkar dan PDIP masing-masing memperoleh 14 kursi. PKS memperoleh 13 kursi, Demokrat 11, PKB dan NasDem masing-masing 10, PAN 7, PPP 4 dan PSI 3.

Dengan demikian, bahkan partai gubernur tidak menguasai parlemen.

Ini menciptakan kebutuhan terhadap negosiasi politik lintas partai.

 

  1. Golkar memegang posisi ketua DPRD

Fahmi Hakim dari Golkar menjadi Ketua DPRD Provinsi Banten periode 2024-2029.

Dengan demikian, konfigurasi formal kekuasaan Banten dapat diringkas:

Gubernur → Gerindra

Ketua DPRD → Golkar

14 kursi → Gerindra, Golkar, PDIP

Banten memiliki dua pusat kekuasaan formal yang berbeda.

 

CERITA

Banten tidak sedang berpindah dari politik elite ke politik rakyat. Banten sedang memasuki tahap negosiasi baru.

Kemenangan Andra menunjukkan bahwa jaringan politik lama dapat dikalahkan.

Tetapi hasil pemilu legislatif dan kekuatan figur lama menunjukkan bahwa jaringan tersebut belum menghilang.

Airin Rachmi Diany misalnya, meski kalah pada Pilgub, tetap mempunyai modal elektoral besar. Dalam Pemilu DPR RI 2024, Airin memperoleh 302.878 suara di Dapil Banten III. Angka itu menjadi indikator bahwa basis personal seorang kandidat tidak otomatis menghilang setelah kalah dalam satu kontestasi.

Pada sisi lain, sejumlah figur lama tetap mempunyai kendaraan politik dan jaringan masing-masing.

Artinya, politik Banten 2026 bukan:

lama versus baru.

Lebih tepat:

jaringan lama + figur lama + mesin baru + basis pemilih baru sedang mencari bentuk keseimbangan baru.

 

APA YANG TERLIHAT DARI RUANG PUBLIK?

Dalam pembacaan OSINT, perhatian diarahkan kepada informasi terbuka: pemberitaan, pernyataan pejabat, forum publik, konten media sosial, diskusi masyarakat, dan isu yang berulang.

Satu pola yang terlihat pada 2026 adalah semakin kuatnya pergeseran percakapan dari politik simbolik menuju politik hasil.

Masyarakat tidak hanya membicarakan siapa pendukung gubernur.

Mereka semakin mempertanyakan:

Apakah sekolah benar-benar gratis?

Apakah jalan benar-benar diperbaiki?

Apakah pekerjaan tersedia?

Apakah pelayanan pemerintah cepat?

Apakah pembangunan merata?

Program Sekolah Gratis menjadi salah satu isu utama pemerintah. Pemerintah Provinsi Banten menyebut program tersebut sebagai upaya memperluas akses pendidikan, sementara Gubernur Andra pada Januari 2026 kembali menyatakan program tersebut diarahkan untuk menekan angka putus sekolah. (detiknews)

Di sisi lain, pemerintah juga menjadikan pembangunan jalan desa sebagai program unggulan.

Dalam dialog dengan HMI pada Maret 2026, misalnya, Andra menerima kritik dan aspirasi mahasiswa dan menyebut pembangunan jalan desa sebagai salah satu program untuk memperbaiki akses ekonomi, pendidikan dan kesehatan. (Banten Provinsi)

Ini memberi petunjuk penting:

isu yang paling mudah memperoleh perhatian publik adalah isu yang dapat dirasakan langsung.

 

MEMBACA SUARA MASYARAKAT DI MEDIA SOSIAL

SOCMINT atau Social Media Intelligence digunakan di sini bukan untuk mengklaim bahwa seluruh masyarakat Banten berpikir sama.

Media sosial hanya merepresentasikan sebagian masyarakat, bahkan sebagian di antaranya sangat aktif sehingga volumenya bisa terlihat lebih besar daripada proporsi sebenarnya.

Baca Juga:  Siapa Sebenarnya Memegang Setir Politik Sultra? 

Karena itu, CAPOT membaca arah percakapan, bukan menghitung suara.

Dari penelusuran percakapan terbuka 2026, terdapat beberapa klaster sentimen yang menonjol.

SENTIMEN POSITIF

Narasi positif terhadap pemerintahan Andra terutama muncul ketika pembicaraan berhubungan dengan:

sekolah gratis

pembangunan jalan

kehadiran gubernur di lapangan

dialog dengan mahasiswa/pemuda

narasi perubahan

Akun dan kanal yang mendukung pemerintahan cenderung menampilkan Andra sebagai gubernur yang dekat dengan masyarakat dan aktif turun ke lapangan. Bahkan kanal resmi pemerintah secara konsisten menonjolkan pertemuan dengan mahasiswa dan kelompok masyarakat sebagai bagian dari komunikasi kebijakan. (Banten Provinsi)

 

SENTIMEN NEGATIF

Sentimen kritis paling mudah muncul bukan pada ideologinya, tetapi pada pelaksanaan kebijakan.

Contohnya adalah pengakuan pemerintah bahwa Program Sekolah Gratis masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. (Facebook)

Ini penting.

Karena ketika pemerintah mengumumkan sebuah program, publik digital segera mengubah pertanyaan:

“Apa programnya?”

menjadi:

“Benarkah saya merasakannya?”

 

SENTIMEN NETRAL / PRAGMATIS

Ada juga kelompok percakapan yang tidak terlalu tertarik pada pertarungan partai.

Mereka lebih tertarik pada:

harga kebutuhan

pekerjaan

kemacetan

jalan

pendidikan

kesehatan

pelayanan administrasi

peluang ekonomi

Pola ini sejalan dengan konteks ekonomi Banten. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka Banten pada Mei 2026 sebesar 6,48 persen, meskipun turun 0,11 poin dibanding Februari 2026. (Badan Pusat Statistik Provinsi Banten)

Di sisi kemiskinan, BPS mencatat persentase penduduk miskin Banten pada September 2025 sebesar 5,51 persen, atau sekitar 760,85 ribu orang. (Badan Pusat Statistik Provinsi Banten)

Angka-angka tersebut membantu menjelaskan mengapa isu ekonomi dan lapangan kerja tetap memiliki daya politik besar.

 

SENTIMEN PUBLIK: APAKAH ANDRA SUDAH AMAN?

Belum bisa disimpulkan demikian.

Pada 2025, survei Indikator Politik Indonesia mengenai kepuasan 100 hari kerja gubernur menunjukkan posisi Andra menjadi bahan kritik dan diskusi publik. Sejumlah media lokal melaporkannya sebagai salah satu tingkat kepuasan terendah dibanding gubernur lain di Pulau Jawa. (Faktabanten.co.id)

Tetapi kita harus hati-hati.

Survei 100 hari bukan ukuran kondisi 2026.

Pemerintahan dapat memperoleh sentimen yang berbeda setelah satu tahun program berjalan.

Karena itu, indikator yang lebih relevan sekarang adalah:

apakah program pemerintah mulai mengubah persepsi publik?

Di sinilah 2026 menjadi tahun penting bagi Andra.

 

TOKOH: SIAPA YANG MASIH MEMILIKI MODAL?

ANDRA SONI

Modal: jabatan + pemerintahan + Gerindra + jaringan nasional

Andra mempunyai keuntungan sebagai incumbent gubernur.

Keuntungan itu sangat besar.

Tetapi incumbent juga menghadapi satu persoalan:

semua keberhasilan akan dikreditkan kepadanya, begitu pula semua kegagalan.

 

ACHMAD DIMYATI NATAKUSUMAH

Modal: jaringan lokal + Pandeglang + politik sosial-keagamaan

Dimyati memiliki ekosistem politik tersendiri.

Kekuatan tersebut memberikan kedalaman geografis kepada pasangan Andra.

 

AIRIN RACHMI DIANY

Modal: personal branding + Tangerang Selatan + jaringan Golkar

Airin tetap merupakan salah satu figur dengan modal elektoral yang pernah terbukti besar.

Survei Litbang Kompas pada Juli 2024 bahkan menempatkan Airin pada posisi pertama dalam elektabilitas kandidat sebelum Pilgub, dengan 38,3 persen. (detiknews)

Hasil akhirnya berbeda.

Justru di situlah pelajarannya:

survei bukan hasil pemilu.

 

WAHIDIN HALIM

Modal: pengalaman eksekutif + NasDem + jaringan Tangerang

Wahidin memiliki pengalaman sebagai mantan Gubernur Banten.

Kembalinya ia ke posisi strategis di NasDem membuatnya tetap relevan sebagai elite senior.

 

ITI OCTAVIA JAYABAYA

Modal: Demokrat + basis Lebak + pengalaman eksekutif

Iti mempunyai kekuatan geografis yang khas.

Basis Lebak memberinya pijakan yang berbeda dari para pemain Tangerang Raya.

 

FIGUR BARU

Justru kelompok ini yang perlu dipantau.

Politik Banten tidak selalu menghasilkan kandidat masa depan dari gubernur atau mantan gubernur.

Bisa saja muncul:

wali kota/bupati yang berhasil

anggota DPR RI yang memiliki basis kuat

figur profesional

tokoh muda

tokoh pesantren

pengusaha daerah

atau figur masyarakat sipil yang berhasil mengubah popularitas digital menjadi organisasi politik.

 

ANALISIS CAPOT

Masyarakat Banten tampaknya tidak sedang mencari “politisi paling kuat”.

Indikator yang muncul justru mengarah pada tipe figur yang lebih sederhana:

bisa bekerja

bisa dihubungi

tidak terlalu elitis

peduli pendidikan

membuka lapangan kerja

memperbaiki jalan

mampu menjaga harga dan ekonomi

bersih dari korupsi

memiliki identitas keagamaan/nilai moral yang dapat diterima

Pernyataan publik mengenai kebutuhan figur Banten bahkan sejak periode sebelumnya sering menggabungkan tiga karakter: peduli masyarakat, memiliki religiositas dan mampu menghadirkan pembangunan. (Radar Banten)

Jika pola itu dibawa ke 2029, maka figur ideal Banten bukan sekadar:

populer.

Tetapi:

populer + bekerja + dekat + bersih.

 

PROFIL SOSOK YANG BERPOTENSI DIINGINKAN PEMILIH BANTEN

Dari kombinasi data sosial-ekonomi, hasil pemilu dan pembacaan percakapan terbuka, CAPOT melihat lima atribut calon pemimpin yang kemungkinan semakin dicari:

  1. FIGUR PEMECAH MASALAH

Bukan hanya pandai berpidato.

Masyarakat ingin melihat hasil yang konkret.

 

  1. FIGUR YANG DEKAT

Di era media sosial, jarak antara pejabat dan masyarakat semakin kecil.

Baca Juga:  Kursi Ketua DPRD Sultra, Ketika Keputusan Partai Bertemu Kuorum dan Bamus

Figur yang bisa merespons keluhan publik mempunyai keuntungan komunikasi.

 

  1. FIGUR BERSIH

Isu integritas tetap mempunyai daya politik tinggi.

Bukan kebetulan narasi “tidak korupsi” selalu muncul dalam percakapan mengenai figur pemimpin Banten.

 

  1. FIGUR RELIGIUS TETAPI MODERN

Banten memiliki identitas keagamaan yang kuat.

Namun basis urban Banten juga semakin besar.

Karena itu pemimpin ideal berpotensi bukan figur yang hanya mengandalkan identitas agama, maupun figur yang hanya menjual modernitas.

Melainkan:

religius secara nilai, modern dalam tata kelola.

 

  1. FIGUR YANG MAMPU MENJEMBATANI UTARA–SELATAN

Banten memiliki kesenjangan karakter antara:

Tangerang Raya

dan

Lebak–Pandeglang.

Figur masa depan yang mampu diterima oleh dua ekosistem tersebut memiliki keunggulan besar.

 

PETA FIGUR

Figur Modal utama Kelebihan Risiko
Andra Soni Gubernur + Gerindra Incumbent, akses pemerintahan Beban kinerja
Dimyati Pandeglang + jaringan lokal Basis sosial-keagamaan Ketergantungan pada koalisi
Airin Tangerang Selatan + Golkar Personal brand + pengalaman Kemenangan Pilgub 2024 tidak tercapai
Wahidin Halim NasDem + pengalaman gubernur Senior, pengalaman Faktor usia/kejenuhan figur
Iti Jayabaya Demokrat + Lebak Basis Selatan Harus memperluas basis
Figur baru Popularitas + isu publik Potensi breakthrough Belum punya mesin

Tabel ini adalah pemetaan analitis, bukan urutan elektabilitas.

 

PETA SENTIMEN CAPOT

Secara konseptual, percakapan publik Banten 2026 dapat dibaca dalam empat lapisan:

EKONOMI

Pekerjaan — upah — harga — kemiskinan

PELAYANAN

Pendidikan — kesehatan — administrasi

PEMBANGUNAN

Jalan — transportasi — pemerataan

INTEGRITAS

Korupsi — transparansi — birokrasi

Semakin ke bawah, isu menjadi semakin politis.

Karena ketika publik mengatakan:

“jalan rusak,”

mereka sedang berbicara tentang pelayanan.

Ketika mereka berkata:

“mengapa jalan belum diperbaiki?”

mereka mulai berbicara tentang pemerintah.

Dan ketika mereka bertanya:

“siapa yang bertanggung jawab?”

politik sudah masuk ke dalam percakapan.

 

SKENARIO

SKENARIO 1 – ANDRA BERHASIL MENGUBAH SENTIMEN

Sekolah gratis berjalan semakin baik.

Infrastruktur terlihat.

Pelayanan meningkat.

Lapangan kerja membaik.

Kritik terhadap pemerintah berkurang.

Dalam kondisi ini, Andra tidak hanya menjadi gubernur.

Ia dapat berubah menjadi pusat gravitasi politik Banten.

 

SKENARIO 2 – PROGRAM ADA, SENTIMEN TIDAK BERUBAH

Pemerintah menghasilkan banyak program.

Tetapi masyarakat merasa hasilnya tidak merata.

Dalam situasi ini, komunikasi pemerintah dapat kalah oleh pengalaman masyarakat.

Ini merupakan risiko terbesar pemerintahan di era media sosial.

 

SKENARIO 3 – MUNCUL FIGUR NON-TRADISIONAL

Bila publik semakin jenuh dengan elite lama, figur baru dapat muncul.

Syaratnya:

mempunyai rekam kerja

  • mempunyai kemampuan komunikasi
  • mempunyai jaringan akar rumput
  • mempunyai kendaraan politik.

 

SKENARIO 4 – POLITIK KEMBALI KE FIGUR LAMA

Bila tidak ada figur baru yang benar-benar menonjol, pertarungan dapat kembali berputar pada nama yang telah dikenal, yakni:

Andra – Airin – Dimyati – Wahidin – Iti

dengan kemungkinan munculnya figur baru sebagai penentu koalisi.

 

CAPOT DUGAAN

Banten 2026 bukan lagi sekadar perebutan kursi gubernur.

Ini adalah perebutan persepsi publik.

Andra Soni memiliki pemerintahan.

Golkar mempunyai posisi kuat di legislatif.

PDIP memiliki 14 kursi.

PKS mempunyai 13 kursi.

Demokrat, PKB dan NasDem mempunyai kekuatan dua digit.

Tetapi semua kekuatan tersebut menghadapi satu hakim yang sama:

masyarakat.

Dan hakim itu semakin sulit dibujuk hanya dengan baliho, slogan dan seremoni.

Masyarakat dapat melihat program pemerintah.

Tetapi masyarakat juga dapat langsung membandingkan pengalaman mereka dengan klaim pemerintah melalui media sosial.

Karena itu, modal politik masa depan Banten tidak lagi cukup dirumuskan:

jabatan + partai + uang + jaringan.

Formula itu sedang berubah menjadi:

kinerja + kedekatan + integritas + jaringan + kemampuan membaca publik.

Dan dari seluruh peta tersebut, satu pertanyaan mulai mengemuka:

Apakah Banten berikutnya akan tetap memilih figur yang sudah terkenal, atau justru melahirkan sosok baru yang dianggap lebih mampu menyelesaikan persoalan sehari-hari masyarakat?

Pertanyaan itu belum memiliki jawaban.

Tetapi arah percakapannya mulai terlihat.

 

CATATAN REDAKSI CAPOT

Tulisan ini merupakan analisis politik, bukan tuduhan terhadap individu, partai, keluarga, pemerintah atau kelompok tertentu.

Bagian FAKTA menggunakan data dan informasi dari sumber resmi pemerintah/KPU/BPS serta pemberitaan yang dapat diverifikasi. Bagian OSINT dan SOCMINT merupakan pembacaan atas informasi dan percakapan publik yang tersedia secara terbuka. Percakapan media sosial tidak dapat dianggap sebagai survei representatif seluruh masyarakat Banten.

Penyebutan sentimen positif, negatif dan netral menunjukkan arah atau tema percakapan yang teridentifikasi, bukan persentase dukungan masyarakat.

Demikian pula bagian “figur yang diinginkan masyarakat” merupakan konstruksi analitis berdasarkan kombinasi isu publik, kebutuhan sosial-ekonomi, karakter pemilih dan jejak percakapan terbuka. Ia bukan hasil jajak pendapat baru dan tidak boleh dibaca sebagai peringkat elektabilitas.

Untuk membuktikan preferensi figur secara statistik, diperlukan survei opini publik dengan metodologi, ukuran sampel, margin of error dan desain sampling yang dapat diaudit.

Follow WhatsApp Channel fnews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Siapa Sebenarnya Memegang Setir Politik Sultra? 
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 18:18 WIB

Andra Soni Memegang Pemerintahan, Siapa Memegang Sentimen Publik?

Senin, 31 Agustus 2026 - 20:26 WIB

Siapa Sebenarnya Memegang Setir Politik Sultra? 

Berita Terbaru

CAPOT MANUVER

Enam Nama, Satu Kursi Sekda Sultra

Rabu, 2 Sep 2026 - 19:51 WIB

CAPOT UTAMA

Siapa Sebenarnya Memegang Setir Politik Sultra? 

Senin, 31 Agu 2026 - 20:26 WIB