Ringa Jhon dan Misteri 629 Suara, Political Aggregation ≠ Political Cohesion

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 09:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Mengapa Ringa Jhon hanya meraih 629 suara, padahal didukung tiga partai dengan basis 13.319 suara?

 

MUNA – Pilkada Muna 2024 meninggalkan satu anomali elektoral. Koalisi Hanura-PPP- Perindo membawa akumulasi 13.319 suara sah pada Pemilu Legislatif 2024, tetapi pasangan La Ode Husuna Ringa Jhon–Syarifuddin hanya memperoleh 629 suara pada Pilkada. Di antara angka tersebut terdapat gap 12.690 suara. Namun persoalannya bukan sekadar “ke mana suara itu pergi”, melainkan mengapa kekuatan partai gagal dikonversi menjadi kekuatan kandidat.

Dalam politik, angka kadang lebih banyak bercerita daripada pidato.

Pilkada Muna 2024 menghasilkan lima pasangan calon. Dua pasangan teratas, Bachrun–Asrafil dan Rajiun–Purnama, menguasai hampir seluruh arena. Bachrun–Asrafil memperoleh 53.908 suara, Rajiun–Purnama 47.655 suara. Jauh di bawah keduanya terdapat Kardini–Noor Dhani dengan 11.563 suara dan Abdul Rahman–Awal Jaya dengan 4.331 suara.

Lalu ada Ringa Jhon–Syarifuddin.

Hanya 629 suara.

Angka tersebut setara sekitar 0,53 persen dari 118.086 suara sah. Hasil itu menempatkan pasangan tersebut di posisi terakhir. (Mahkamah Konstitusi RI)

Namun ada satu fakta yang membuat angka 629 menjadi jauh lebih menarik.

Pasangan itu tidak datang tanpa dukungan partai.

Ringa Jhon–Syarifuddin diusung Hanura, Perindo dan PPP. Dalam Pemilu Legislatif 2024, ketiga partai tersebut mengumpulkan secara agregat 13.319 suara sah di Kabupaten Muna: Hanura 8.870, PPP 3.456 dan Perindo 993 suara. Angka tersebut setara sekitar 10,77 persen dari total 123.685 suara sah partai yang tercatat dalam data pencalonan Pilkada. (KPU Muna)

Secara matematis, 629 suara kandidat hanya setara 4,72 persen dari 13.319 suara partai pengusung.

Di sinilah “misteri 629” dimulai.

Bukan karena 13.319 suara harus otomatis berpindah kepada Ringa Jhon. Itu merupakan kesimpulan yang tidak sah.

Tetapi karena terdapat jarak elektoral yang sangat lebar antara kekuatan partai dan kekuatan kandidat.

Dan jarak itu menyimpan cerita tentang politik Muna.

 

FAKTA

  1. Koalisi Ringa Jhon sebenarnya memiliki modal elektoral

Komposisi suara Pileg 2024 partai pengusung Ringa Jhon adalah:

Partai pengusung Suara Pileg 2024
Hanura 8.870
PPP 3.456
Perindo 993
Total 13.319

Hanura sendiri berhasil memperoleh dua kursi DPRD Muna. PPP dan Perindo tidak memperoleh kursi DPRD Muna. Secara keseluruhan, PAN justru memperoleh satu kursi DPRD, sementara PDIP lima kursi, Golkar, Gerindra dan Demokrat masing-masing empat kursi, serta PKB, NasDem dan PKS masing-masing tiga kursi. (Scribd)

Secara formal, koalisi Ringa Jhon memiliki pijakan untuk mendaftarkan pasangan calon. KPU Muna menetapkan Ringa Jhon–Syarifuddin sebagai pasangan calon yang diusung Hanura, Perindo dan PPP. (KPU Muna)

  1. Hasil Pilkada berbanding terbalik

Hasil resmi Pilkada Muna menunjukkan:

Pasangan Suara Persentase
Bachrun–Asrafil 53.908 45,65%
Rajiun–Purnama 47.655 40,36%
Kardini–Noor Dhani 11.563 9,79%
Abdul Rahman–Awal Jaya 4.331 3,67%
Ringa Jhon–Syarifuddin 629 0,53%
Total suara sah 118.086 100%

Data tersebut bersumber dari Keputusan KPU Kabupaten Muna Nomor 1362 Tahun 2024 yang juga dimuat dalam perkara PHPU di Mahkamah Konstitusi. (Mahkamah Konstitusi RI)

  1. Gap-nya mencapai 12.690 suara

Perbandingan sederhana menghasilkan:

13.319 suara partai − 629 suara pasangan = 12.690 suara.

Akan tetapi angka 12.690 ini bukan berarti ada 12.690 pemilih yang “hilang” atau berkhianat.

Itu adalah gap analitis antara basis suara partai pada Pileg dan suara pasangan calon pada Pilkada.

Perbedaan tersebut penting karena dua kontestasi itu mengukur hal yang berbeda.

Pemilih Pileg memilih partai atau calon legislatif.

Pemilih Pilkada memilih pasangan kepala daerah.

Satu orang dapat memilih Hanura pada Pileg, tetapi memilih kandidat lain pada Pilkada.

Karena itu, analisis yang sehat bukan mencari “suara siapa yang hilang”, melainkan mengukur tingkat konversi suara partai menjadi suara kandidat.

Dan di sini konversinya sangat rendah.

13.319 → 629.

Itulah fakta yang paling kuat.

 

CERITA

Dari atas kertas, koalisi itu terlihat jauh lebih besar daripada hasil akhirnya

Ada hal lain yang sering luput ketika membaca koalisi politik secara sederhana.

Kekuatan tiga partai itu ternyata tidak tersebar merata secara geografis.

Berdasarkan rekapitulasi suara Pileg 2024 per dapil, akumulasi suara Hanura, PPP dan Perindo adalah:

Dapil Akumulasi suara 3 partai
Muna 1 4.027
Muna 2 2.605
Muna 3 764
Muna 4 885
Muna 5 2.786
Muna 6 2.252
Total 13.319

Data per dapil menunjukkan bahwa hampir sepertiga basis suara tiga partai berada di Dapil Muna 1, sekitar 30,2 persen dari total suara koalisi. Dapil Muna 5 menyumbang sekitar 20,9 persen, Dapil Muna 2 sekitar 19,6 persen, dan Dapil Muna 6 sekitar 16,9 persen. Sebaliknya, Dapil Muna 3 hanya menyumbang sekitar 5,7 persen. (STEKOM)

Ini penting.

Artinya, bahkan sebelum membahas kandidat, modal koalisi Ringa Jhon sudah bersifat terfragmentasi.

Hanura merupakan penyumbang terbesar di Dapil 2, sedangkan PPP relatif kuat di Dapil 1 dan 5, sementara Perindo memiliki porsi yang lebih terlihat di Dapil 1 dan 3. (STEKOM)

Dengan kata lain:

Koalisi itu memiliki suara, tetapi suara tersebut tidak berada di satu tempat dan tidak otomatis berada di bawah satu figur.

Ini merupakan persoalan klasik dalam politik lokal:

political aggregation ≠ political cohesion.

Mengumpulkan tiga partai di meja koalisi tidak sama dengan menyatukan seluruh jaringan, tokoh, caleg, simpatisan dan pemilih ketiga partai di lapangan.

 

TOKOH

Ringa Jhon: punya tiket, tetapi belum punya basis personal

Ringa Jhon telah melalui pengalaman politik yang tidak semua orang miliki: maju sebagai kandidat kepala daerah.

Itu merupakan modal.

Tetapi hasilnya menunjukkan bahwa pada 2024, modal tersebut belum berkembang menjadi basis pemilih personal yang signifikan. Ia hanya memperoleh 629 suara atau 0,53 persen. (Mahkamah Konstitusi RI)

Dalam bahasa Political Intelligence, persoalannya bukan hanya candidate strength, tetapi juga candidate conversion.

Pertanyaan yang lebih tepat:

Seberapa banyak orang memilih Ringa Jhon karena Ringa Jhon, bukan karena partai yang mengusungnya?

Baca Juga:  Siapa Sebenarnya Memegang Setir Politik Sultra? 

Data agregat Pilkada tidak mampu menjawabnya secara langsung.

Tetapi 629 suara memberikan sinyal bahwa brand kandidat pada saat itu belum cukup kuat untuk melakukan penetrasi di luar jaringan yang sangat terbatas.

 

Hanura, PPP dan Perindo: punya suara, tetapi belum tentu satu mesin

Hanura adalah kekuatan terbesar dari tiga partai tersebut dengan 8.870 suara dan dua kursi DPRD Muna. PPP memiliki 3.456 suara dan Perindo 993 suara. (Scribd)

Tetapi angka itu adalah angka partai pada Pemilu Legislatif.

Di balik angka tersebut terdapat caleg, keluarga, jaringan desa, tokoh lokal, relawan dan relasi sosial masing-masing.

Sehingga salah satu hipotesis yang paling masuk akal adalah:

Sebagian suara yang tercatat sebagai suara partai sebenarnya merupakan kekuatan personal kandidat legislatif, bukan loyalitas permanen kepada institusi partai.

Ini bukan kesimpulan final.

Tetapi secara analitis, hipotesis itu layak diuji.

Karena jika sebagian besar suara tersebut bersumber dari jaringan personal caleg, maka saat partai menunjuk kandidat Bupati yang berbeda, jaringan tersebut tidak otomatis ikut.

 

PETA

Peta pertama: kekuatan PAN

PAN memperoleh 4.635 suara dan satu kursi DPRD Muna pada Pemilu 2024. Namun angka tersebut sangat terkonsentrasi di Dapil Muna 6, yang mencakup Duruka, Lohia dan Kontunaga. Di dapil itu PAN memperoleh 3.496 suara. (Scribd)

Artinya, sekitar 75,4 persen suara PAN Kabupaten Muna terkonsentrasi di satu dapil.

Ini mempunyai dua makna sekaligus.

Positif

PAN memiliki satu kantong basis yang nyata.

Bukan sekadar suara nasional atau suara yang tersebar tipis.

Ada wilayah di mana PAN bisa mencapai 3.496 suara dan memenangkan satu kursi melalui Agustini Muhaimin. (Halos Ultra)

Negatif

Konsentrasi itu menunjukkan bahwa PAN belum memiliki distribusi kekuatan yang merata di seluruh Kabupaten Muna.

Dengan kata lain:

PAN memiliki basis, tetapi basis tersebut belum sama dengan basis Kabupaten Muna.

Bagi siapa pun yang ingin menggunakan PAN sebagai kendaraan menuju 2029, fakta ini sangat penting.

 

Peta kedua: basis koalisi Ringa Jhon

Tiga partai pengusung Ringa Jhon juga mempunyai basis yang tersebar.

Muna 1 adalah titik terkuat dengan 4.027 suara.

Muna 5 2.786.

Muna 2 2.605.

Muna 6 2.252.

Muna 4 hanya 885.

Muna 3 764.

Ini menunjukkan sebuah paradoks:

koalisinya tidak kecil secara agregat, tetapi kekuatannya berserak. (STEKOM)

 

ANALISIS CAPOT

Masalah Ringa Jhon pada 2024 kemungkinan bukan semata-mata kekurangan tiket politik. Masalah utamanya adalah kegagalan mengubah tiket menjadi jaringan kemenangan.

Tiga partai memberikan 13.319 suara elektoral pada Pemilu Legislatif.

Tetapi pasangan calon hanya memperoleh 629 suara pada Pilkada. (Scribd)

Ada sekurang-kurangnya lima penjelasan analitis yang patut diuji.

  1. Partai tidak identik dengan pemilih kandidat

Ini penjelasan paling aman.

Pemilih partai dapat memilih pasangan lain.

Tidak ada aturan politik yang membuat suara partai harus berpindah kepada kandidat kepala daerah yang didukung partai.

Karena itu, 13.319 hanya boleh dibaca sebagai political resource, bukan sebagai suara kandidat yang sudah dimiliki.

  1. Koalisi mungkin kuat secara formal tetapi lemah secara operasional

Tiga partai bisa sepakat di tingkat pencalonan, tetapi belum tentu tiga struktur itu bekerja dengan intensitas yang sama di setiap desa.

Koalisi yang efektif membutuhkan:

komando + pembagian wilayah + relawan + saksi + dana operasional + strategi pesan + figur lokal.

Tanpa itu, koalisi hanya menjadi perjanjian pencalonan.

  1. Basis partai bisa berasal dari caleg, bukan organisasi

Ini merupakan kemungkinan yang sangat penting.

Ketika suara partai terkumpul melalui banyak caleg, pemilik sebenarnya dari jaringan tersebut secara sosial dapat berada pada kandidat, keluarga atau tokoh lokal.

Maka ketika Pilkada datang, partai mungkin membawa nama dan simbol.

Tetapi jaringannya tidak ikut secara utuh.

  1. Ringa Jhon belum memiliki diferensiasi politik yang cukup kuat

Di Pilkada 2024, Muna menghadapi dua kutub utama yang sangat dominan: Bachrun–Asrafil dengan 53.908 suara dan Rajiun–Purnama dengan 47.655 suara. Dua pasangan ini secara gabungan memperoleh 101.563 suara, atau sekitar 86 persen dari seluruh suara sah. (Mahkamah Konstitusi RI)

Dalam kondisi seperti itu, kandidat ketiga dan seterusnya menghadapi problem berat.

Pemilih cenderung berkumpul di kandidat yang dipersepsikan memiliki peluang menang.

Ringa Jhon bukan hanya harus menjual figur.

Ia harus menjual alasan mengapa pemilih harus mengambil risiko keluar dari dua kutub besar tersebut.

  1. Timing dan positioning dapat menjadi faktor

Bila kandidat masuk ketika struktur politik sudah terkonsolidasi pada dua figur utama, ruang politik yang tersisa menjadi jauh lebih kecil.

Karena itu, 629 suara tidak boleh dibaca hanya sebagai persoalan personal Ringa Jhon.

Bisa saja ia merupakan produk dari kombinasi:

figur yang belum kuat + kendaraan yang terfragmentasi + dua kutub utama yang sangat dominan + timing pencalonan + lemahnya konversi mesin partai.

Mana faktor yang paling dominan?

Data agregat belum cukup untuk menjawab.

 

SKENARIO

SKENARIO 1 – PAN menjadi kendaraan comeback Ringa Jhon

Ini skenario yang paling mudah dibayangkan.

Namun problemnya jelas.

PAN saat ini hanya memiliki satu kursi.

Karena itu PAN membutuhkan figur yang dapat memperbesar basis di luar kantong tradisionalnya.

Ringa Jhon juga membutuhkan kendaraan yang lebih terstruktur.

Secara teoritis keduanya dapat saling melengkapi.

PAN memberi struktur.

Ringa Jhon memberi figur alternatif.

Tetapi titik lemahnya adalah:

belum ada bukti publik yang menunjukkan bahwa PAN telah menetapkan Ringa Jhon sebagai kandidat.

Karena itu, ini masih merupakan skenario, bukan fakta.

 

SKENARIO 2 – Ringa Jhon tidak menjadi calon utama, tetapi menjadi aset koalisi

Ini bisa menjadi skenario yang lebih realistis.

Setelah pengalaman 2024, Ringa Jhon dapat membangun jaringan politik terlebih dahulu dan kemudian menjadi bagian dari formula koalisi yang lebih besar.

Dalam skenario ini, nilai politik Ringa Jhon tidak diukur hanya dengan elektabilitas.

Baca Juga:  Keterbatasan Anggaran Jadi Tantangan KONI Sultra dalam Membangun Olahraga

Nilainya dapat berasal dari:

jaringan sosial + pengalaman Pilkada + kemampuan menjangkau kelompok tertentu + posisi tawar antarelite.

 

SKENARIO 3 – Ringa Jhon membangun ulang dari nol

Ini secara politik paling sehat apabila targetnya 2029.

Tidak mengulang pola:

cari partai → dapat tiket → maju.

Tetapi membalik proses:

bangun basis → bangun isu → bangun jaringan → ukur pertumbuhan → baru memilih kendaraan.

Target pertamanya tidak perlu Bupati.

Target pertamanya adalah membuktikan bahwa 629 suara dapat bertumbuh menjadi basis yang nyata.

 

SKENARIO 4 – PAN memilih figur lain

Ini harus dianggap sebagai kemungkinan serius.

PAN tidak berkewajiban menjadikan Ringa Jhon sebagai pilihan hanya karena pernah berkoalisi dalam politik lokal dengan jaringan tertentu.

Jika muncul figur yang memiliki basis elektoral jauh lebih kuat, PAN secara rasional dapat memilih figur tersebut.

Dalam politik, kendaraan tidak otomatis mengikuti penumpang pertama.

 

IMPLIKASI POLITIK UNTUK PAN

Bagi PAN, kasus Ringa Jhon memberikan satu pelajaran yang sangat penting:

Partai dengan satu kursi tidak boleh hanya berpikir tentang siapa yang paling populer. Partai harus mencari figur yang mampu memperluas distribusi suara.

PAN memiliki keunggulan di Dapil 6.

Pertanyaan strategisnya adalah:

bisakah basis Dapil 6 diperluas ke dapil lain?

Atau:

apakah PAN akan tetap menjadi partai yang kuat di satu kantong, tetapi tipis di wilayah lain?

Bila target PAN adalah memperbesar representasi pada Pemilu berikutnya, maka persoalannya bukan sekadar mencari satu figur kepala daerah.

PAN perlu membangun jaringan lintas enam dapil.

 

IMPLIKASI POLITIK UNTUK RINGA JHON

Kasus 629 suara sebenarnya memberikan pelajaran yang sangat mahal.

Ringa Jhon sekarang tahu satu hal:

tiket tidak cukup.

Bahkan tiga partai pun belum tentu cukup.

Yang menentukan adalah:

berapa banyak orang yang benar-benar bersedia memilih Ringa Jhon.

Karena itu, indikator keberhasilan ke depan harus berubah.

Bukan lagi:

“Partai apa yang mengusung saya?”

Tetapi:

“Berapa desa yang memiliki jaringan saya?”

“Berapa tokoh lokal yang bekerja bersama saya?”

“Berapa pemilih yang mengenal program saya?”

“Berapa suara yang tetap mengikuti saya ketika partai belum menentukan pilihan?”

Inilah yang membedakan candidate dari political asset.

 

DATA YANG MASIH HARUS DIBUKA

Untuk menjawab secara definitif mengapa 629 suara terjadi, CAPOT membutuhkan satu lapisan data tambahan.

Yakni:

Ringa Jhon per kecamatan → per desa → per TPS.

Kemudian data tersebut dicocokkan dengan:

Hanura + PPP + Perindo per TPS pada Pileg 2024.

Dari sana kita dapat menguji:

Di mana basis partai pengusung berada tetapi Ringa Jhon tidak tumbuh?

Dan lebih penting:

Di mana Ringa Jhon justru memperoleh suara relatif tinggi?

Jika misalnya ditemukan bahwa suara Ringa Jhon terkonsentrasi pada beberapa desa tertentu, maka kita dapat mengidentifikasi core constituency yang bisa menjadi embrio kebangkitan.

Sebaliknya, jika 629 suara tersebar sangat tipis tanpa kantong signifikan, maka problemnya lebih mendasar: belum terbentuk basis personal yang solid.

 

PENUTUP

629 bukan sekadar angka kekalahan.

Ia adalah diagnosis politik.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pada Pilkada Muna 2024, kekuatan tiga partai pengusung—yang secara agregat memiliki 13.319 suara pada Pileg—tidak berubah menjadi kekuatan kandidat dengan proporsi yang sebanding. (BPK Sultra)

Tetapi dari situ justru lahir pertanyaan yang lebih besar.

Apakah 629 merupakan batas politik Ringa Jhon?

Ataukah 629 hanya merupakan hasil dari mesin politik yang tidak terkonsolidasi dan kontestasi yang sudah terbelah menjadi dua kutub besar?

Jawabannya tidak akan ditemukan hanya dari angka hasil Pilkada.

Jawabannya ada di desa.

Di jaringan tokoh.

Di kantong suara.

Di struktur partai.

Dan di kemampuan seorang kandidat mengubah jaringan sosial menjadi pemilih yang benar-benar datang ke TPS dan mencoblos namanya.

Sementara itu, PAN berada pada persimpangan yang sama.

Dengan satu kursi dan basis yang sangat kuat di Dapil 6, PAN punya modal tetapi belum memiliki distribusi kekuatan yang merata. (STEKOM)

Maka pertanyaan politik Muna menuju 2029 bukan hanya:

Siapa yang memiliki partai?

Tetapi:

Siapa yang memiliki jaringan pemilih?

Dan dari seluruh nama yang pernah muncul pada 2024, apakah Ringa Jhon mampu mengubah 629 dari angka terakhir menjadi angka pertama dari sebuah kebangkitan politik baru?

Lampiran sumber utama

Artikel ini bertumpu terutama pada dokumen resmi KPU Muna dan Putusan Mahkamah Konstitusi, dengan data pembanding hasil Pemilu 2024 dari sumber yang mereproduksi tabel KPU. Dokumen KPU menetapkan Ringa Jhon–Syarifuddin diusung Hanura, Perindo dan PPP; sementara Putusan MK memuat hasil akhir 629 suara dan total 118.086 suara sah. (KPU Muna)

Data Pileg 2024 menunjukkan Hanura 8.870, PAN 4.635, Perindo 993 dan PPP 3.456 suara; distribusi per dapil juga menunjukkan PAN sangat terkonsentrasi di Muna 6 dengan 3.496 suara. (Scribd)

Bawaslu Muna pada 2026 juga telah mulai menempatkan persiapan menuju Pemilu 2029 sebagai bagian dari penguatan kelembagaan dan pemetaan isu/kerawanan pemilu. (Bawaslu Muna)

 

Catatan Redaksi CAPOT

Tulisan ini merupakan analisis jurnalistik, bukan tuduhan terhadap individu, partai politik, maupun kelompok tertentu. Angka dan data yang digunakan merujuk pada hasil Pemilu dan Pilkada 2024 sebagaimana sumber yang disebutkan dalam tulisan.

Angka 12.690 suara merupakan selisih matematis antara akumulasi suara Hanura, PPP, dan Perindo pada Pileg 2024 dengan perolehan suara pasangan Ringa Jhon–Syarifuddin pada Pilkada 2024. Selisih tersebut tidak dimaknai sebagai suara yang hilang atau suara yang seharusnya berpindah kepada kandidat.

Sementara kesimpulan, interpretasi, dan skenario politik dalam tulisan merupakan pembacaan CAPOT atas data yang tersedia, sehingga tetap terbuka untuk diuji dan dikonfirmasi melalui data yang lebih rinci hingga tingkat kecamatan, desa, dan TPS.

 

Follow WhatsApp Channel fnews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bombana Menuju 2031: Kekuatan Burhanuddin-Ahmad Yani, DPRD,dan Pertarungan Isu SDA
Pembangunan Besar, Suara Tidak Selalu Ikut Besar
Nikel, Politik dan Uang
Andra Soni Memegang Pemerintahan, Siapa Memegang Sentimen Publik?
Siapa Sebenarnya Memegang Setir Politik Sultra? 
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 09:31 WIB

Ringa Jhon dan Misteri 629 Suara, Political Aggregation ≠ Political Cohesion

Minggu, 6 September 2026 - 07:37 WIB

Bombana Menuju 2031: Kekuatan Burhanuddin-Ahmad Yani, DPRD,dan Pertarungan Isu SDA

Sabtu, 5 September 2026 - 10:33 WIB

Pembangunan Besar, Suara Tidak Selalu Ikut Besar

Kamis, 3 September 2026 - 21:20 WIB

Nikel, Politik dan Uang

Kamis, 3 September 2026 - 18:18 WIB

Andra Soni Memegang Pemerintahan, Siapa Memegang Sentimen Publik?

Berita Terbaru

CAPOT UTAMA

Pembangunan Besar, Suara Tidak Selalu Ikut Besar

Sabtu, 5 Sep 2026 - 10:33 WIB